Opini  

Duta Baca Bukan Sekadar Gelar, Tetapi Sebuah Tanggung Jawab untuk Menyalakan Literasi

INILAHTASIK.COM – Literasi bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang mampu kita baca. Literasi adalah tentang bagaimana kita memahami, berpikir, menyampaikan gagasan, dan kemudian menjadikan pengetahuan itu sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Karena itu, menjadi Duta Baca bagi saya bukan sekadar mendapatkan sebuah gelar, tetapi menerima sebuah tanggung jawab untuk ikut menyalakan semangat literasi di tengah masyarakat.

Ketika pertama kali menjadi bagian dari Duta Baca Kabupaten Tasikmalaya, saya menyadari bahwa tugas seorang Duta Baca tidak berhenti setelah terpilih.

Justru, terpilih hanyalah awal dari perjalanan. Ada tanggung jawab untuk terus belajar, bergerak, berkarya, dan mengajak lebih banyak orang untuk mencintai literasi.

Di era digital seperti sekarang, tantangan literasi semakin beragam. Informasi dapat kita temukan hanya dalam hitungan detik, tetapi tidak semua informasi yang kita temui memiliki kebenaran.

Di sinilah kemampuan literasi menjadi penting. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami, memilah, memeriksa, dan menggunakan informasi dengan bijak.

Menurut saya, gerakan literasi juga tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Membaca beberapa halaman buku setiap hari, berdiskusi tentang suatu persoalan, menulis pengalaman, membuat konten edukatif, atau mengajak teman untuk datang ke perpustakaan pun merupakan bagian dari gerakan literasi.

Sebagai Duta Baca, saya percaya bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menjadi bagian dari perubahan. Ada yang menyampaikan pesan melalui tulisan, ada yang melalui kegiatan sosial, ada yang melalui media digital, dan ada pula yang turun langsung ke masyarakat. Semua memiliki tujuan yang sama: membuat literasi semakin dekat dan mudah dijangkau oleh siapa saja.

Bagi saya, menjadi Duta Baca adalah tentang bagaimana kita mampu menjadi contoh sebelum mengajak orang lain. Bagaimana kita menunjukkan bahwa membaca bukanlah aktivitas yang membosankan, bahwa menulis bukan sesuatu yang sulit, dan bahwa pengetahuan yang kita miliki akan jauh lebih berarti ketika dibagikan.

Saya berharap gerakan literasi di Kabupaten Tasikmalaya tidak berhenti pada sebuah program atau kegiatan seremonial. Literasi harus menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Dari desa hingga kota, dari anak-anak hingga orang dewasa, semua memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses terhadap pengetahuan dan kesempatan untuk berkarya.

Karena pada akhirnya, Duta Baca bukan tentang siapa yang paling banyak membaca, bukan pula tentang siapa yang paling sering tampil di depan publik. Duta Baca adalah mereka yang mau terus belajar dan bersedia mengajak orang lain untuk belajar bersama.

Mari membaca, mari berpikir, mari berkarya. Sebab dari satu halaman yang kita baca, bisa lahir satu gagasan. Dari satu gagasan, bisa lahir sebuah karya. Dan dari sebuah karya, mungkin saja lahir perubahan.

Nyalakan literasi, lahirkan karya. Karena setiap aksara yang kita baca hari ini, dapat menjadi cahaya bagi masa depan.

Mohammad Abid – Kecamatan Mangunreja
Duta Baca Kabupaten Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *