INILAHTASIK.COM | Kalau ngomongin soal keluarga, pasti yang terbesit dalam pikiran kita adalah tempat aman untuk bertumbuh, betul nggak? Karena rumah adalah tempat kita mendapatkan kasih sayang dan rasa aman dari orang-orang terdekat, mulai dari ayah, ibu, nenek, kakek, dan anggota keluarga lainnya.
Tapi ternyata, ada kejahatan yang justru terjadi dari orang-orang terdekat kita. Belum lama ini, aku membaca berita tentang kasus kekerasan seksual terhadap anak di Subang. Polres Subang mencatat 41 kasus kekerasan seksual sepanjang Januari–Agustus 2026 (Tirto.id, 26/08/2026). Mirisnya, pelaku dalam kasus-kasus seperti ini bisa berasal dari lingkungan yang seharusnya melindungi anak, mulai dari keluarga hingga lingkungan pendidikan dan tempat tinggal. Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita selalu dilindungi dari hal-hal buruk seperti ini.
Kekerasan seksual terhadap anak bukan persoalan sepele, sob. Dampaknya bisa membekas dan memengaruhi tumbuh kembang korban, bahkan hingga dewasa. Pelaku mungkin sudah dihukum, tetapi apakah trauma korban otomatis hilang? Tentu tidak. Korban masih membutuhkan perlindungan, pendampingan psikologis, dan proses pemulihan yang tidak sebentar.
Keluarga, guru, dan tetangga seharusnya menjadi lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Namun, ketika orang-orang yang dipercaya justru menjadi pelaku, kita perlu bertanya: sebenarnya, apa yang sedang bermasalah dalam kehidupan masyarakat kita?
Ketika Agama Hanya Menjadi Urusan Ibadah
Sob, kekerasan seksual memang merupakan kejahatan individu. Pelaku harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, persoalan ini juga perlu dilihat lebih jauh, termasuk bagaimana masyarakat membangun cara pandang tentang benar dan salah.
Hari ini, agama sering kali ditempatkan sebatas urusan ibadah pribadi. Kita diajarkan salat, puasa, dan membaca Al-Qur’an, tetapi nilai-nilai agama belum tentu dijadikan pedoman dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pergaulan, perlindungan anak, dan penegakan hukum.
Inilah yang perlu kita kritisi. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, standar benar dan salah berisiko lebih banyak ditentukan oleh kebiasaan, kepentingan, atau keinginan manusia. Padahal, Islam bukan sekadar mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan antar manusia dan melarang segala bentuk kezaliman.
Bayangkan, sob, ketika nama baik keluarga lebih diutamakan daripada keselamatan anak. Ketika korban diminta diam demi menjaga kehormatan, sementara pelaku justru dilindungi. Bukankah ini cara berpikir yang keliru?
Dalam QS. An-Nisa ayat 135, Allah memerintahkan orang beriman untuk menegakkan keadilan sekalipun terhadap diri sendiri, orang tua, atau kerabat. Artinya, hubungan keluarga dan kedudukan seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk menutupi kejahatan.
Islam Bukan Sekadar Nasihat
Lalu, apakah cukup menyelesaikan masalah ini dengan mengingatkan masyarakat agar lebih bermoral? Tentu belum, sob. Kita membutuhkan perlindungan nyata, bukan hanya imbauan.
Islam mengajarkan ketakwaan agar setiap individu menyadari bahwa perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Namun, ketakwaan harus diwujudkan dalam tindakan. Orang tua perlu membangun komunikasi yang aman dengan anak, sekolah wajib memiliki mekanisme perlindungan yang jelas, dan masyarakat tidak boleh menyalahkan atau membungkam korban.
Lebih dari itu, negara memiliki tanggung jawab besar dalam melindungi anak. Negara harus memastikan setiap laporan ditangani secara serius, pelaku diproses secara adil, serta korban mendapatkan pendampingan medis, psikologis, dan hukum. Sebab, perlindungan tidak cukup dilakukan setelah kejahatan terjadi, tetapi harus dibangun sejak awal.
Inilah pentingnya penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan secara menyeluruh. Islam tidak hanya mengajarkan individu untuk menjadi baik, tetapi juga menuntut tegaknya keadilan dan terpenuhinya hak-hak masyarakat. Ketakwaan individu, pendidikan keluarga, kepedulian masyarakat, dan tanggung jawab negara harus berjalan bersama.
Menjaga Anak, Menjaga Amanah
Sob, jangan sampai kita sibuk mengajarkan anak untuk menghormati orang dewasa, tetapi lupa mengajarkan bahwa mereka juga berhak mendapatkan perlindungan. Jangan sampai kita takut dianggap membuka aib keluarga, sampai mengabaikan keselamatan anak yang seharusnya menjadi prioritas.
Anak adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga. Karena itu, membangun lingkungan yang aman bukan hanya tanggung jawab orang tua, melainkan tanggung jawab bersama, termasuk negara yang wajib menghadirkan perlindungan dan keadilan.
Pada akhirnya, kita tidak cukup hanya bertanya, “Mengapa kekerasan ini terjadi?” Kita juga harus berani bertanya, “Apa yang harus diperbaiki agar anak-anak tidak terus menjadi korban?”
Sebab, masyarakat yang baik bukan sekadar masyarakat yang mengaku menjunjung agama dan kehormatan keluarga, tetapi masyarakat yang benar-benar melindungi mereka yang rentan. Jangan biarkan agama berhenti sebagai nasihat di tempat ibadah, sementara kehidupan sehari-hari berjalan tanpa nilai-nilai yang seharusnya kita pegang.
Karena menjaga anak bukan sekadar bentuk kasih sayang, melainkan amanah yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Oleh : Kiasatina Izzati Pertiwi (Mahasiswi Karawang)











