Opini  

Pendidikan di Bawah Bayang-bayang Industri: Ke Mana Arah Pembentukan Generasi?

Ilustrasi Net

INILAHTASIK.COM | BNET Academy memperkuat kerja sama dengan 14 sekolah mitra di Karawang untuk membangun ekosistem pendidikan vokasi yang menyesuaikan perkembangan industri telekomunikasi dan teknologi. Kerja sama tersebut membahas kebutuhan industri dan pentingnya menyiapkan kompetensi lulusan SMK agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Salah satu bentuknya adalah menyesuaikan Kurikulum Merdeka dengan kebutuhan industri telekomunikasi. Selain itu, sebagai pendekatan pembelajaran, BNET Academy juga memperkenalkan Kurikulum Industri BNET Academy yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. (KarawangNews.com 25/09/26)

Dunia pendidikan saat ini semakin mengarahkan lulusannya agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Sinkronisasi kurikulum menjadi salah satu cara agar visi tersebut dapat terwujud. Pada satu sisi, hubungan yang dibangun antara sekolah dan industri memang dapat membantu siswa memperoleh keterampilan yang relevan. Namun, perlu dipertanyakan ketika kebutuhan industri menjadi salah satu dasar utama dalam menentukan kompetensi yang dimiliki peserta didik. Pada akhirnya, pendidikan berpotensi lebih banyak dipandang dari sisi, “Apakah lulusan ini dibutuhkan oleh dunia kerja atau tidak?” bukan dari tujuan utama pendidikan, yaitu membentuk manusia yang berilmu dan memiliki kepribadian.

Jika pendidikan terus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja, maka sekolah bukan hanya menjadi tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat untuk menyiapkan tenaga kerja bagi pasar. Siswa dibentuk agar memiliki kemampuan yang sesuai dengan posisi yang dibutuhkan industri. Artinya, terdapat kemungkinan pergeseran orientasi pendidikan, dari mendidik manusia secara utuh menjadi menyiapkan manusia agar siap digunakan dalam dunia kerja.

Di sinilah persoalannya tidak lagi hanya tentang BNET Academy atau satu sekolah tertentu, tetapi mengenai arah pendidikan secara luas. Kerja sama dengan industri sebenarnya bukanlah masalah. Yang harus dikritisi adalah ketika kepentingan industri memiliki pengaruh yang terlalu besar dalam menentukan arah pendidikan.

Dalam sistem kapitalisme, pendidikan cenderung ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja. Industri membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu, sedangkan pendidikan diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang dibutuhkan tersebut. Persoalannya, ketika kebutuhan industri dan kepentingan ekonomi menjadi dasar utama dalam menentukan arah pendidikan, pendidikan berisiko mengikuti kepentingan pihak yang memiliki kekuatan ekonomi dan modal. Kurikulum pun dapat lebih banyak diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan produksi dan pasar.

Dalam kondisi seperti ini, peserta didik tidak lagi dipandang secara utuh sebagai manusia yang memiliki tujuan hidup, nilai, potensi, dan peran dalam membangun peradaban. Mereka lebih mudah diposisikan sebagai sumber daya manusia yang harus memiliki nilai guna bagi kegiatan ekonomi. Artinya, pendidikan bukan hanya membentuk manusia agar berkembang, tetapi juga dapat berfungsi sebagai sarana untuk menyediakan tenaga yang dibutuhkan oleh aktivitas ekonomi para pemilik modal.

Di sinilah letak persoalan yang perlu dikritisi. Ketika arah pendidikan terlalu mengikuti kebutuhan industri, siapa yang sebenarnya menentukan manusia seperti apa yang harus dibentuk? Apakah pendidikan yang menentukan arah bagi industri, atau justru industri dan kepentingan ekonomi yang menentukan arah pendidikan? Jika pendidikan terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar, generasi muda berisiko lebih banyak dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja yang “sesuai kebutuhan”, sementara pembentukan manusia yang memiliki pemikiran, karakter, tanggung jawab sosial, dan visi terhadap peradaban dapat semakin tersisihkan.
Padahal, manusia bukan sekadar faktor produksi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Dalam perspektif Islam, manusia memiliki kedudukan dan tujuan hidup yang jauh lebih luas. Karena itu, pendidikan seharusnya tidak menjadikan kepentingan ekonomi sebagai tujuan utama dalam membentuk manusia. Ilmu dan keterampilan memang penting untuk menjawab perkembangan zaman, tetapi keduanya harus ditempatkan sebagai sarana untuk membangun kehidupan dan memberikan kemaslahatan, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pemilik modal.

Dalam Islam, manusia tidak hanya dipandang sebagai sumber daya ekonomi, tetapi sebagai makhluk yang memiliki tujuan hidup. Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat: 56:“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Dari sini, pendidikan seharusnya bukan hanya diarahkan untuk mencetak manusia yang dapat memenuhi kebutuhan dunia industri, tetapi juga mencetak manusia yang memahami kehidupannya, membentuk kepribadian, dan menjalankan tanggung jawab sebagai hamba Allah.

Ketika kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan industri, hal tersebut memang dapat memberikan keterampilan yang relevan bagi siswa. Namun, Islam memandang persoalan tersebut lebih jauh: apakah tujuan pendidikan hanya agar peserta didik sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, atau pendidikan juga harus membentuk manusia yang memahami tujuan hidupnya?

Pendidikan dalam Islam dimulai dari bagaimana akidah dapat mencetak manusia yang memahami tujuan hidupnya. Pendidikan diarahkan untuk memberikan pemahaman bahwa ilmu adalah amanah yang penggunaannya harus dipertanggungjawabkan. Akidah yang terbentuk akan menumbuhkan akhlak dan kepribadian yang bertanggung jawab serta pemahaman tentang untuk apa dan ke mana ilmu tersebut disalurkan.

Islam tidak pernah membatasi belajar hanya pada perkara agama. Ilmu pengetahuan umum seperti sains, teknologi, telekomunikasi, kedokteran, dan sebagainya justru dapat menjadi penunjang bagi peserta didik dalam memberikan manfaat kepada masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam tidak memisahkan pembentukan kepribadian dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Keduanya diarahkan untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak, tujuan hidup, serta kemampuan untuk menggunakan ilmunya dengan benar.

Sejarah peradaban Islam juga menunjukkan bagaimana pendidikan yang berlandaskan nilai agama dapat mendorong lahirnya para ilmuwan yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, seorang ilmuwan Muslim yang dikenal melalui kontribusinya dalam bidang matematika, khususnya aljabar. Ilmunya tidak hanya menjadi bagian dari perkembangan peradaban Islam, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan hingga masa sekarang.

Dari sini dapat dilihat bahwa Islam tidak menganggap ilmu dunia sebagai sesuatu yang terpisah dari agama. Justru, ilmu pengetahuan diarahkan agar berkembang dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia serta memberikan kemaslahatan. Inilah yang membuat pendidikan dalam Islam tidak hanya bertujuan menghasilkan orang yang memiliki kemampuan, tetapi juga manusia yang memahami bagaimana kemampuan tersebut digunakan dan untuk tujuan apa ilmu itu diarahkan.

Maka, solusi yang ditawarkan Islam bukan dengan menolak perkembangan teknologi, dunia industri, atau kebutuhan akan tenaga kerja yang kompeten. Yang perlu diubah adalah arah dan tujuan pendidikannya. Pendidikan harus kembali menempatkan pembentukan manusia sebagai tujuan utama, sedangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan menjadi sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam sistem pendidikan Islam, negara memiliki peran penting dalam menentukan arah pendidikan agar tidak dikendalikan oleh kepentingan pasar dan pemilik modal. Negara bertanggung jawab menyediakan pendidikan yang membentuk kepribadian Islam sekaligus membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Dengan demikian, kebutuhan industri tetap dapat diperhatikan, tetapi tidak menjadi penentu utama tujuan pendidikan.

Industri dapat menjadi mitra dalam memberikan pengalaman dan keterampilan sesuai perkembangan zaman, tetapi arah pendidikan tetap harus berlandaskan pada tujuan Islam. Dengan konsep tersebut, peserta didik tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar, tetapi menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, memiliki keterampilan, dan mampu menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat serta membangun peradaban.

Oleh : Kiasatina Izzati Pertiwi (Mahasiswi Karawang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *