INILAHTASIK.COM | Penguatan karakter dan kapasitas generasi muda dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menghadapi berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Mulai dari maraknya fenomena geng motor, persoalan lingkungan, hingga perilaku menyimpang di kalangan remaja membutuhkan perhatian dan keterlibatan aktif para pemuda.
Hal tersebut menjadi perhatian Anggota DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Kepler Sianturi S.MG, M.A, saat menggelar pelatihan peningkatan kapasitas pemuda dan organisasi kepemudaan di Aula Kecamatan Bungursari, Selasa, 3 November 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Kepler menegaskan bahwa pemuda harus dipersiapkan menjadi generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan dan keterampilan, tetapi juga karakter kuat serta kepekaan terhadap kondisi sosial di lingkungannya.
Menurutnya, pembinaan kepemudaan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Diperlukan program berkesinambungan yang mampu memberikan ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkembang, sekaligus mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Pemuda jangan hanya menjadi penonton di lingkungannya sendiri. Mereka harus memiliki kemampuan, karakter, dan kepedulian untuk ikut menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di masyarakat,” ujar Kepler.
Ia menyebutkan, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Persoalan geng motor, pengelolaan sampah, hingga menurunnya kepedulian sosial menjadi sejumlah hal yang perlu mendapat perhatian serius.
Kepler juga mengingatkan pentingnya menanamkan nilai-nilai persatuan, musyawarah, gotong royong, dan keadilan sebagai landasan dalam membangun kehidupan bermasyarakat.
Ia berharap pemuda Bungursari mampu tumbuh menjadi generasi yang tidak mudah menyerah, meskipun dihadapkan pada tekanan ekonomi maupun perubahan situasi politik dan geopolitik global.
“Pemuda harus menjadi generasi yang tangguh. Jangan mudah menyerah menghadapi keadaan. Mereka harus mampu bergerak, berkembang, dan menjadi bagian dari kemajuan Bungursari,” katanya.
Selain penguatan karakter, Kepler secara khusus menyoroti persoalan geng motor yang melibatkan kalangan remaja. Menurutnya, penanganan masalah tersebut membutuhkan pendekatan bersama dan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat keamanan atau pemerintah.
Keterlibatan tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, KNPI, hingga Karang Taruna dinilai penting untuk membangun komunikasi dan mencari solusi yang tepat.
“Persoalan geng motor ini harus kita tangani bersama. Ulama, tokoh masyarakat, organisasi pemuda, KNPI, dan Karang Taruna perlu duduk bersama. Kita harus bergotong royong agar anak-anak muda tidak terjerumus dalam aktivitas yang merugikan masa depan mereka,” ungkapnya.
Kepler menambahkan, kegiatan peningkatan kapasitas kepemudaan tersebut tidak hanya dilaksanakan di Bungursari, tetapi juga menyasar wilayah lain, termasuk Kecamatan Tawang.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Momon Suryaman, menyambut positif pelaksanaan pelatihan tersebut. Ia menilai kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana membangun kesadaran sekaligus memperkuat peran organisasi kepemudaan dalam menghadapi tantangan sosial.
Momon mengatakan, fenomena geng motor dan perundungan atau bullying yang melibatkan remaja perlu ditangani melalui pembinaan yang tepat. Pendekatan kepada generasi muda, menurutnya, harus dilakukan dengan memahami kondisi dan sudut pandang mereka.
“Anak-anak muda perlu dirangkul dan diberikan pemahaman. Jangan sampai mereka kehilangan ruang untuk berkembang sehingga akhirnya mencari pelampiasan melalui kegiatan yang justru merugikan dirinya sendiri maupun orang lain,” tutur Momon.
Sebagai langkah lanjutan, pihaknya berencana membangun kolaborasi dengan sejumlah perangkat daerah, termasuk instansi yang menangani perlindungan anak, untuk memberikan edukasi langsung ke sekolah-sekolah pada Desember mendatang.
Program tersebut direncanakan melibatkan guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKN) serta guru Bimbingan Konseling (BK). Keterlibatan tenaga pendidik diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan sekaligus membantu mengidentifikasi persoalan yang dihadapi para remaja.
Momon juga menilai pengalaman mantan pelaku yang telah meninggalkan perilaku negatif dan kembali menjalani kehidupan secara positif dapat dimanfaatkan sebagai metode edukasi. Kisah perubahan tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran nyata kepada remaja mengenai dampak perilaku berisiko.
“Harapannya, melalui kegiatan ini, pemuda semakin memiliki kesadaran, mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensi, dan mampu keluar dari berbagai persoalan sosial. Mereka harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru menambah persoalan di masyarakat,” pungkasnya.











