INILAHTASIK.COM | Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Hampir setiap hari teknologi tersebut hadir melalui telepon genggam, mesin pencari, hingga berbagai aplikasi yang digunakan untuk belajar maupun mencari hiburan.
Namun, kemudahan itu menyimpan tantangan. Tanpa pemahaman yang cukup, AI bisa membuat pelajar terlalu bergantung pada teknologi, bahkan berisiko menyalahgunakan informasi maupun data pribadi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Polres Tasikmalaya. Kepolisian melalui kegiatan Sosialisasi Training of Trainer (TOT) Paham AI menyambangi SMKN 1 Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis 10 September 2026.
Puluhan siswa mendapatkan edukasi mengenai cara memanfaatkan AI secara bijak sekaligus memahami berbagai risiko yang dapat muncul di ruang digital.
Kapolres Tasikmalaya AKBP Ade Papa Rihi melalui Kasi Humas Polres Tasikmalaya Aipda Triana Anggasari mengatakan, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang memadai.
Menurutnya, pelajar merupakan kelompok yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi sehingga perlu dibekali pemahaman sejak dini.
“Edukasi ini diberikan agar para siswa tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki pemahaman untuk menggunakan AI secara cerdas, aman, etis, dan bertanggung jawab,” ujar Triana.
Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diingatkan agar tidak menjadikan AI sebagai jalan pintas untuk menggantikan kemampuan berpikir.
Teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi, mengembangkan gagasan, membantu proses belajar maupun menggali kreativitas. Namun, hasil yang diberikan AI tetap perlu diperiksa dan disesuaikan dengan sumber informasi yang dapat dipercaya.
“AI bisa menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat. Tetapi penggunaannya tetap harus disertai sikap kritis. Jangan sampai semua informasi yang keluar dari AI langsung dianggap benar,” katanya.
Selain persoalan akurasi informasi, aspek keamanan digital turut menjadi perhatian. Para pelajar diminta lebih berhati-hati ketika memasukkan identitas, foto, dokumen, maupun data pribadi ke dalam aplikasi berbasis AI.
Persoalan hak cipta juga menjadi bagian penting dalam edukasi tersebut. Kemudahan menghasilkan tulisan, gambar, maupun berbagai karya menggunakan AI tidak berarti pengguna bebas mengambil atau mengklaim karya orang lain.
Ia berharap kegiatan literasi digital semacam ini dapat terus dilakukan di lingkungan sekolah. Edukasi tersebut dinilai penting untuk membangun kesadaran pelajar agar mampu memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Sebab, tantangan keamanan generasi muda saat ini bukan hanya berada di jalanan. Ruang digital juga menjadi medan baru yang membutuhkan kewaspadaan.
Melalui pemahaman AI yang benar, para pelajar diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan zaman.











