FK Tagana Latih 100 Siswa MTs Muhammadiyah Singaparna Hadapi Situasi Darurat

Para peserta perkemahan masa tamu MTs Muhammadiyah Singaparna tampak serius menyimak paparan materi yang disampaikan Tagana Kabupaten Tasikmalaya. Jumat (23/10/2026). Foto | Dok. Tagana

INILAHTASIK.COM | Kemampuan memberikan pertolongan pertama dalam situasi darurat perlu ditanamkan sejak dini, termasuk kepada kalangan pelajar. Hal itu menjadi fokus Forum Koordinasi Taruna Siaga Bencana (FK Tagana) Kabupaten Tasikmalaya saat memberikan edukasi Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) kepada sekitar 100 siswa MTs Muhammadiyah Singaparna, Jumat (23/10/2026).

Pembekalan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Perkemahan Masa Tamu. Para peserta mendapatkan pengetahuan dasar mengenai langkah awal penanganan korban kecelakaan maupun kondisi darurat sebelum memperoleh bantuan dari tenaga medis.

Ketua FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan edukasi PPGD penting diberikan kepada pelajar agar mereka memiliki kesiapan menghadapi kejadian tidak terduga, baik di lingkungan sekolah maupun saat mengikuti kegiatan luar ruangan.

“Melalui materi PPGD ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran para siswa tentang pentingnya pertolongan pertama. Ketika menghadapi situasi darurat, mereka diharapkan tidak panik, mampu mengenali kondisi korban, dan mengetahui langkah awal yang tepat dengan tetap mengutamakan keselamatan,” ujar Jembar, Sabtu 24 Oktober 2026.

Menurutnya, pengetahuan pertolongan pertama bukan hanya dibutuhkan oleh petugas kebencanaan atau tenaga medis. Masyarakat, termasuk generasi muda, juga perlu memahami tindakan dasar yang dapat dilakukan untuk membantu orang lain ketika terjadi kecelakaan atau keadaan yang mengancam keselamatan.

Dalam penyampaian materi, para siswa diperkenalkan pada pentingnya mengenali kondisi korban, memahami prosedur awal pemberian pertolongan, serta mengetahui batas kemampuan diri saat menghadapi keadaan gawat darurat.

Jembar menegaskan, pertolongan pertama harus dilakukan secara tepat dan bertanggung jawab. Penolong perlu memperhatikan keamanan lingkungan serta menghindari tindakan yang berisiko memperburuk kondisi korban.

“Yang paling penting adalah memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menolong. Jangan sampai niat membantu justru membahayakan diri sendiri maupun korban. Jika kondisi di luar kemampuan, segera minta bantuan petugas atau tenaga medis,” katanya.

Ia berharap kegiatan edukasi kebencanaan dan kemanusiaan di lingkungan pendidikan dapat terus dikembangkan. Selain menambah wawasan, pembekalan semacam ini dinilai mampu membangun karakter pelajar yang peduli, tanggap, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap keselamatan sesama.

“Anak-anak muda harus dibekali bukan hanya dengan pengetahuan akademik, tetapi juga kepedulian sosial dan kesiapsiagaan. Kami berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara bijak ketika menghadapi keadaan darurat di lingkungan masing-masing,” tambah Jembar.

Melalui kegiatan tersebut, FK Tagana mendorong tumbuhnya generasi muda yang lebih sadar terhadap risiko, memiliki kepedulian kemanusiaan, serta siap mengambil langkah awal yang aman ketika menghadapi situasi darurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *