INILAHTASIK.COM | Intensitas hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Tasikmalaya mulai memicu terjadinya bencana tanah longsor di sejumlah kecamatan. Dalam kurun waktu dua hari, Kamis hingga Jumat, 29–30 Oktober 2026, Forum Koordinasi (FK) Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kabupaten Tasikmalaya menerima laporan kejadian longsor dari beberapa titik.
Ketua FK TAGANA Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan laporan bencana tanah longsor tersebut tersebar di sejumlah wilayah, dengan kejadian terbaru dilaporkan pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Menurut Jembar, pada Kamis (29/10/2026), longsor lebih dahulu terjadi di wilayah Desa Tenjonagara, Kecamatan Cigalontang.
Sementara pada Jumat, laporan kejadian bertambah di beberapa lokasi, yakni Kampung Cibinong RT 001/RW 011, Desa Cikuya, Kecamatan Culamega, Kampung Sukabakti RT 002/RW 006, Desa Girimukti, Kecamatan Bojonggambir, serta Kampung Puncakbaros RT 001/RW 002, Desa Bojonggambir, Kecamatan Bojonggambir.
Longsor juga dilaporkan terjadi di Kampung Pangeueuman RT 002/RW 003, Desa Bojongkapol, Kecamatan Bojonggambir, dan Kampung Cinunjang yang berada di wilayah perbatasan Desa Cintabodas dengan Desa Mekarlaksana.
Selain itu, material longsoran dilaporkan menutup akses jalan di wilayah Desa Tenjowaringin sehingga berpotensi mengganggu aktivitas dan mobilitas masyarakat.
“Kami menerima sejumlah laporan kejadian tanah longsor dari beberapa kecamatan dalam dua hari terakhir. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan dan daerah yang selama ini masuk kategori rawan bencana,” ujar Jembar Adisetya, Jumat, 30 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, pihaknya terus melakukan pemantauan sekaligus berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat dan unsur terkait untuk mengetahui perkembangan situasi di masing-masing lokasi.
Langkah tersebut dilakukan agar setiap informasi kejadian dapat segera ditindaklanjuti, sekaligus mengantisipasi kemungkinan munculnya longsor susulan apabila hujan kembali mengguyur wilayah tersebut.
“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memantau kondisi di lapangan. Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak menganggap remeh hujan yang turun, karena kondisi tanah yang sudah jenuh air dapat meningkatkan potensi terjadinya longsor,” katanya.
Jembar pun meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan berlangsung cukup lama.
Warga yang bermukim di sekitar tebing, lereng perbukitan, maupun kawasan yang memiliki riwayat longsor diminta lebih peka terhadap tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya retakan pada tanah atau bangunan, pohon yang mulai miring, hingga suara gemuruh dari arah tebing.
“Jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah atau kondisi yang membahayakan, masyarakat sebaiknya segera menjauh dari lokasi dan melaporkannya kepada aparat desa maupun petugas terkait. Keselamatan warga harus menjadi prioritas,” pungkasnya.











