INILAHTASIK.COM | Seniman dan budayawan Iik Setiawan, S.Kar menilai musisi, baik tradisional maupun modern, harus memiliki sikap, semangat, dan keyakinan dalam berkarya. Namun, ia menyoroti minimnya peluang yang diberikan pemerintah menjadi salah satu faktor yang membuat para seniman kurang percaya diri untuk berkembang.
Hal tersebut disampaikan Iik saat menjadi narasumber dalam forum group discussion (FGD) bertema Peran Musisi Tradisi dan Modern dalam Meningkatkan Ekonomi Kreatif yang digelar oleh Damas Tasikmalaya bersama Komite Musik DKKT di Gedung Creative Center Kota Tasikmalaya, Rabu (15/4/2026).
“Seniman itu harus punya sikap, semangat, dan keyakinan. Tapi yang membuat mereka tidak yakin adalah ketika peluang itu tidak diberikan. Akhirnya ruang untuk berkembang menjadi tertutup,” ujar Iik.
Dalam kegiatan tersebut, Iik hadir bersama musisi Ega Robot dan berbagi pengalaman kepada para pelaku seni dan budaya di Tasikmalaya.
Menurut Iik, identitas kedaerahan tetap melekat kuat pada setiap seniman, khususnya masyarakat Sunda. Ia menyebut, meskipun karya yang dihasilkan tidak menggunakan bahasa Sunda, karakter budaya tetap bisa dikenali.
“Jati diri atau darah Sunda itu pasti melekat. Jadi, karya apapun yang dibuat, orang akan tetap bisa merasakan bahwa itu berasal dari seniman Sunda,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam berkarya sebagai kunci utama keberhasilan seorang seniman.
Di sisi lain, Iik mengaku bangga dengan Tasikmalaya yang sebelumnya dikenal sebagai daerah yang banyak melahirkan seniman dan tokoh budaya hingga tingkat nasional bahkan internasional. Namun, ia mempertanyakan kondisi saat ini yang dinilai semakin sulit bagi seniman lokal untuk berkembang.
“Dulu Tasikmalaya banyak melahirkan seniman besar. Sekarang, kenapa terasa sulit untuk tumbuh? Ini perlu jadi bahan refleksi bersama,” ucapnya.
Ia menilai adanya pergeseran pola pikir masyarakat menjadi salah satu penyebabnya. Kesenian, menurut dia, kini sering dipandang hanya sebagai hiburan semata yang diukur dari tingkat keramaian sebuah acara.
Selain itu, tantangan lain yang dihadapi seniman adalah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, khususnya media sosial, yang menuntut seniman untuk beradaptasi dalam berkarya.
“Sekarang semua berfokus ke media sosial. Seniman dituntut bisa hadir dan berkarya di sana. Ini tantangan yang tidak ringan,” kata dia.
Iik menegaskan, peran pemerintah sangat penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan seni. Ia berharap kebijakan yang dibuat mampu menggiring masyarakat untuk lebih mencintai dan menghargai karya seni.
“Itu tugas pemerintah, bagaimana membuat kebijakan agar masyarakat mencintai seni, sehingga karya seniman mendapat dukungan,” ujarnya.
Terkait kolaborasi antara musisi tradisional dan modern, Iik menyebut hal tersebut sangat memungkinkan, namun harus dilakukan dengan pemahaman yang tepat.
“Kolaborasi itu bisa, tapi harus dengan ilmunya, tidak bisa asal. Kalau masing-masing profesional di bidangnya, maka kolaborasi akan menghasilkan aransemen baru yang indah,” pungkasnya.











