Material Longsor di Kampung Naga Belum Dibersihkan, Warga Khawatir Tebing Susulan Ambrol

Meterial longsor berupa tanah dan pepohonan tampak masih menutupi area pesawahan milik warga Kampung Naga. Rabu (22/7/2026).

INILAHTASIK.COM | Material longsor yang menimbun puluhan petak sawah di Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, hingga Rabu 22 Juli 2026 masih belum dievakuasi. Tumpukan tanah bercampur batang pohon yang ikut terbawa longsor masih menutupi areal persawahan milik warga.

Belum dilakukannya pembersihan bukan tanpa alasan. Seluruh pemilik sawah yang merupakan warga Kampung Naga memilih menunggu situasi benar-benar aman karena khawatir terjadi longsor susulan dari tebing yang berada di atas lokasi.

Kepala Dusun Kampung Naga, Abah Otoy, mengatakan sebagian tebing masih tampak berdiri sehingga berpotensi kembali runtuh sewaktu-waktu.

“Di atasnya masih ada sisa tebing yang belum longsor. Kami khawatir bagian itu ikut runtuh, jadi untuk sementara material longsor dibiarkan dulu sampai kondisinya benar-benar aman,” ujar Abah Otoy saat ditemui di lokasi, Rabu 22 Juli 2026.

Menurutnya, potensi longsor susulan masih cukup tinggi. Kondisi tanah di sekitar perbukitan saat ini sangat kering hingga mengalami retakan akibat musim kemarau.

“Tanahnya kering sekali, bahkan sudah pecah-pecah. Kemarin sebelum longsor juga sempat terjadi gempa. Jadi kalau ada sedikit getaran saja bisa memicu longsor lagi. Bahkan kalau pohon besar di atas roboh diterpa angin kencang, itu juga bisa memicu longsor susulan,” katanya.

Longsor yang terjadi pada Minggu (19/7/2026) sekitar pukul 16.00 WIB tersebut mengubur sekitar dua hektare lahan persawahan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Padahal, sekitar satu jam sebelum longsor terjadi, kawasan persawahan masih dipenuhi aktivitas para petani. Sebagian sedang menanam padi, menebar pupuk, sementara lainnya memperbaiki saluran irigasi.

Abah Otoy menjelaskan, seluruh sawah yang terdampak baru sekitar satu pekan ditanami padi sehingga kerugian yang dialami para petani diperkirakan cukup besar.

“Luas sawah yang tertimbun sekitar dua hektare dan merupakan milik 14 warga Kampung Naga. Semua pemilik sudah didata, hanya luas lahannya berbeda-beda. Kalau dirata-ratakan sekitar 60 bata per orang,” jelasnya.

Hingga kini, warga masih terus memantau kondisi tebing di atas area longsoran. Pembersihan material baru akan dilakukan setelah dipastikan tidak ada lagi ancaman longsor susulan yang membahayakan keselamatan warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *