Pasanggiri Kawih Mang Koko Digelar, Ajak Pelajar Priangan Timur Lestarikan Seni Vokal Sunda

Yoga Gandara Ketua Pelaksana Pasanggiri Kawih Sunda Karya Maestro Mang Koko

INILAHTASIK.COM | Upaya melestarikan seni budaya Sunda terus dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya dengan menggelar Pasanggiri Kawih Sunda Karya Maestro Mang Koko yang ditujukan bagi pelajar SMA/SMK se-Priangan Timur yang akan digelar pada bulan Agustus mendatang.

Kegiatan ini diinisiasi dosen asal Kota Tasikmalaya, Yoga Gandara, sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan seni kawih Sunda di kalangan generasi muda.

Pasanggiri yang dikemas dalam format rampak sekar ini menampilkan dua karya legendaris Mang Koko, yakni Badminton dan Batik Tasik. Rampak sekar merupakan sajian seni vokal tradisional Sunda yang dibawakan secara berkelompok.

Ketua Pelaksana, Yoga Gandara, mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus upaya mengenalkan kembali karya-karya maestro Sunda kepada para pelajar.

“Kami ingin menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kawih Sunda, khususnya karya-karya Mang Koko yang memiliki nilai seni dan sejarah tinggi. Kegiatan ini bukan hanya sebuah perlombaan, tetapi juga bentuk pelestarian budaya yang harus terus diwariskan,” ujar Yoga, kepada wartawan, Senin 27 Juli 2026.

Ia menjelaskan, dua lagu yang diperlombakan dipilih berdasarkan rekomendasi dewan juri. Selain masih populer hingga kini, kedua lagu tersebut dinilai mewakili kekayaan karya Mang Koko yang berasal dari Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.

Pasanggiri mengusung tema “Mulasara Rumpaka, Ngariksa Nada: Ngamumule Warisan Mang Koko Pikeun Generasi Ngora.” Menurut Yoga, tema tersebut mengandung pesan agar peserta tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga warisan budaya Sunda.

“Harapan kami, para peserta tidak sekadar mengejar gelar juara. Yang lebih penting adalah mereka ikut menjadi bagian dari upaya melestarikan kawih Sunda sehingga karya-karya Mang Koko tetap hidup di tengah generasi muda,” katanya.

Sebelum pelaksanaan pasanggiri, panitia juga telah menggelar Workshop Kawih Sunda Karya Mang Koko bagi guru Seni Budaya dan Bahasa Sunda SMA/SMK di wilayah Priangan Timur pada 16 April 2026 lalu. Para guru kemudian mendiseminasikan materi tersebut kepada siswa di sekolah masing-masing sebagai bekal mengikuti perlombaan.

Babak penyisihan akan dilaksanakan secara daring menggunakan minus one yang disediakan panitia. Selanjutnya, sebanyak 15 grup terbaik akan lolos ke babak final yang digelar secara langsung dengan iringan musik dari panitia.

“Kami menyediakan total hadiah sebesar Rp10 juta. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, LPDP, serta MGMP Seni Budaya dan Bahasa Sunda. Kami mengajak seluruh SMA dan SMK di Priangan Timur untuk segera mendaftarkan diri,” tutur Yoga.

Salah satu peserta dari SMAN Cigalontang, Filda Khotimatunajah, menyambut positif penyelenggaraan pasanggiri tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya daerah.

“Banyak yang beranggapan anak muda sekarang sudah tidak mencintai kesenian Sunda. Menurut saya bukan begitu, tetapi kesempatan untuk berekspresi masih sangat terbatas. Melalui pasanggiri ini kami punya ruang untuk menunjukkan bahwa generasi muda tetap bangga terhadap budaya Sunda,” ujar Filda.

Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda rutin setiap tahun agar semakin banyak pelajar yang terlibat dalam pelestarian seni tradisional.

Dukungan juga datang dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya dan Bahasa Sunda. Ketua MGMP Seni Budaya SMK Kota Tasikmalaya, Yayan Nuryana, mengapresiasi konsep kegiatan yang diawali dengan pelatihan bagi guru sebelum dilanjutkan kepada siswa melalui ajang pasanggiri.

“Kegiatan ini sangat positif karena dimulai dengan peningkatan kompetensi guru, kemudian diteruskan kepada siswa melalui perlombaan. Kami berharap program seperti ini terus berlanjut sehingga pembinaan seni budaya Sunda bisa dilakukan secara berkesinambungan,” kata Yayan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *