Priangan Bamboo Fest 2026 Perkuat Tasik Pelak dan Perluas Jejaring Bisnis UMKM

Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan berharap Priangan Bamboo Fest 2026 dapat memperluas promosi produk UMKM sekaligus mendorong pengembangan industri kerajinan bambu di Kota Tasikmalaya.

INILAHTASIK.COM | Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) membutuhkan lebih dari sekadar promosi. Akses pasar, kualitas produk, ketersediaan bahan baku, dan jejaring bisnis menjadi faktor penting agar pelaku usaha mampu berkembang.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus Priangan Bamboo Fest 2026 yang digelar di Kota Tasikmalaya dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya.

Festival yang memasuki penyelenggaraan kedua di Kota Tasikmalaya tersebut diharapkan menjadi ruang pengembangan industri kreatif sekaligus mendukung program Tasik Pelak yang dijalankan Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan mengatakan, kegiatan itu mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, asosiasi, komunitas, dan mitra industri untuk membangun kerja sama ekonomi di kawasan Priangan Timur.

“Harapannya Priangan Bamboo Fest ini mempertemukan pengusaha, pemerintah, asosiasi, komunitas, semua ada di sini. Tujuannya bagaimana Kota Tasikmalaya ini, Priangan Timur ini bisa saling mengisi. Ada kebutuhan, ada demand dari produk kriya,” ujar Viman, Rabu, 14 Oktober 2026.

Menurut Viman, kolaborasi tersebut penting untuk membuka peluang usaha dan memperluas pemasaran produk lokal. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan ialah kerajinan berbahan bambu yang selama ini menjadi bagian dari kekhasan industri kriya Kota Tasikmalaya.

“Bambu identik dengan kriyanya Kota Tasikmalaya. Ke depan bambu harus jadi kekhasan Kota Tasikmalaya, kita harus punya brand,” katanya.

Viman berharap pengembangan industri bambu tidak berhenti pada produksi kerajinan berskala kecil. Perajin perlu didorong meningkatkan kapasitas usaha agar mampu menjadi pemasok bagi pasar yang lebih luas, bahkan menembus pasar ekspor.

“Tujuan utama untuk meningkatkan pendapatan masing-masing. Dengan adanya kegiatan usaha yang lebih besar, otomatis mempekerjakan lebih banyak orang, membantu pemerintah dalam menanggulangi pengangguran,” ujarnya.

Peningkatan skala usaha tersebut sejalan dengan arah program Tasik Pelak, yang mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan penguatan kapasitas pelaku UMKM. Melalui promosi, pendampingan, dan kemitraan, pelaku usaha diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan daya saing produknya.

Ketua Pelaksana Priangan Bamboo Fest 2026, H. Abun Benyamin, menyebut panitia menyiapkan sekitar 100 stan dalam festival tersebut. Sebanyak 60 stan diisi produk kriya dan kerajinan, sedangkan 40 stan lainnya menampilkan produk kuliner.

Peserta berasal dari sejumlah daerah, antara lain kawasan Priangan, Sukabumi, Sumedang, dan Cirebon. Kehadiran peserta lintas daerah itu memperluas ruang promosi sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk membangun jaringan pemasaran baru.

Abun juga menyebut sejumlah anggota asosiasi telah mengekspor produk art craft ke Eropa dan Amerika. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa produk kerajinan lokal memiliki peluang memasuki pasar internasional jika didukung kualitas produk, kapasitas produksi, dan jaringan perdagangan yang memadai.

Selain promosi, pengembangan industri kriya bambu membutuhkan kepastian pasokan bahan baku. Bambu dinilai memiliki prospek ekonomi, termasuk dalam pengembangan produk bambu laminasi yang nilai jualnya dapat mencapai Rp 18 juta per meter kubik, bergantung pada jenis produk dan spesifikasinya.

Karena itu, pengembangan industri perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bahan baku, peningkatan keterampilan perajin, pengendalian mutu, hingga perluasan akses pasar.

Kepala Dinas KUKM Perindag Kota Tasikmalaya, Sofyan Jaenal Muttaqien, mengatakan pelaksanaan program Tasik Pelak oleh organisasi perangkat daerah yang dipimpinnya sejauh ini berjalan sesuai arah yang ditetapkan.

Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah kota berupaya menjaga keberlanjutan program melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Dukungan tersebut mencakup pelatihan pemasaran digital, pembinaan perajin, serta penguatan kapasitas pelaku usaha agar mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produk.

Kolaborasi menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas manfaat pembinaan UMKM. Keterlibatan asosiasi, komunitas, dan mitra usaha diharapkan dapat membantu pelaku usaha memperoleh pengetahuan, menjangkau calon pembeli, serta membangun kemitraan yang berkelanjutan.

Dalam pengembangan industri bambu, peluang kerja sama juga terbuka dengan Dinas Kehutanan Jawa Barat untuk mendata potensi lahan penanaman bambu di sejumlah kelurahan. Sukajaya dan Sukaraja disebut memiliki potensi lahan hingga puluhan hektare yang dapat ditindaklanjuti.

Pendataan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat ketersediaan bahan baku bagi perajin. Dengan pasokan yang lebih terencana, pelaku usaha diharapkan dapat menjaga kesinambungan produksi ketika permintaan pasar meningkat.

Priangan Bamboo Fest 2026 dengan demikian diharapkan tidak hanya menjadi agenda perayaan hari jadi kota, tetapi juga menjadi ruang yang menghubungkan UMKM dengan peluang pasar dan kemitraan bisnis. Upaya ini sekaligus mendukung Tasik Pelak dalam mendorong pelaku usaha lokal berkembang, meningkatkan pendapatan, dan memperluas kesempatan kerja.

Pengembangan industri kriya bambu yang didukung pembinaan, bahan baku, dan akses pemasaran diharapkan dapat memperkuat ekonomi kreatif sekaligus membangun identitas Kota Tasikmalaya sebagai salah satu pusat industri kerajinan di Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *