Berlangsung Sejak 2005, Bencana Pergerakan Tanah di Sukaraja Tasikmalaya Meluas 

INILAHTASIK.COM | Bencana longsor dan pergerakan tanah kembali terjadi di tiga lokasi berbeda di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, pada Sabtu, 24 Februari 2025. Lokasi pertama, terjadi di Kampung Bojongsirna, Kampung Cimanggu, dan Kampung Pengkolan Angres, Desa Leuwibudah.

Hujan deras yang berlangsung cukup lama menyebabkan air tidak tertampung dan masuk ke dalam rumah warga. Selain itu, jebolnya benteng mengakibatkan 7 unit rumah warga terdampak, 1 unit rumah rusak berat.

Lokasi kedua, terjadi di Kampung Patra RT 10 RW 05, Desa Sirnajaya, longsor dan pohon tumbang menutup akses jalan menuju Kampung Citatah dan Kampung Wr Bungur. Tak hanya itu, jalan penghubung Sukaraja-Cibalong juga alami rusak, serta satu unit rumah rusak berat.

Lokasi berikutnya terjadi di Desa Sukapura. Sebuah benteng roboh hingga menimpa gedung Poned Puskesmas Sukaraja, dan 1 unit rumah rusak berat.

Anggota Tagana Kab. Tasikmalaya, Erwin Softi Hardiana menuturkan, bencana longsor dan pergerakan tanah di Kecamatan Sukaraja bertambah menjadi tiga desa. Di Desa Leuwibudah, air masuk ke rumah warga hingga tembok rumah jebol. 

Kemudian, lanjut dia, bencana pergerakan tanah terjadi di Kampung Patra dan Jalan Ada Warna, serta jalan penghubung Desa Sirnajaya dan Desa Janggala longsor serta tertimpa pohon tumbang. Bencana longsor juga terjadi di Desa Sukapura, sebuah benteng roboh hingga menimpa bangunan Poned Puskesmas Sukaraja dan rumah warga. 

“Untuk di Desa Sirnajaya itu sudah tiga kali kejadian, dengan rentang waktu berbeda. Longsor dan pergerakan tanah terjadi di Kampung Babakan Mekar, Kampung Patra, serta jalan di Kampung Ada Warna,” tutur Erwin, kepada wartawan, Minggu sore, 25 Mei 2025.

Erwin menyebut, bencana pergerakan tanah di Desa Sirnajaya sudah berlangsung sejak tahun 2005, bahkan sebagian warga yang rumahnya terdampak sudah di relokasi ke tempat lain. 

“Terakhir kami ke Babakan Mekar itu sekitar tahun 2017, sekarang terjadi lagi. Masih ingat, dulu itu letak masjid berada ditengah kampung, kini posisinya jadi di ujung kampung,” kata Erwin. 

Pihaknya mengimbau warga yang tinggal di lokasi bencana pergerakan tanah untuk lebih waspada akan adanya potensi bencana susulan. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *