Saluran Irigasi Mati, Puluhan Hektare Sawah di Cigalontang Disulap Jadi Ladang Jagung

Heri Kepala Desa Tenjonagara bersama personil kepolisian dan beberapa orang pekerja tengah memanen jagung. Senin (10/8/2026).

INILAHTASIK.COM | Ketika saluran irigasi tak lagi mengalir, puluhan hektare lahan pertanian di Desa Tenjonagara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, perlahan kehilangan produktivitasnya.

Sawah yang sebelumnya menjadi tumpuan ekonomi warga berubah menjadi lahan yang nyaris tak memberikan penghasilan. Dampaknya bukan hanya dirasakan pemilik lahan, tetapi ikut merembet pada kehidupan ekonomi masyarakat.

Kesempatan kerja berkurang, daya beli melemah, hingga penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) desa ikut tertekan.

Kepala Desa Tenjonagara, Heri, mengungkapkan kondisi tersebut bahkan membuat pemerintah desa harus mencari cara untuk menutup kekurangan penerimaan PBB yang mengalami penurunan cukup signifikan.

“Yang paling parah dampaknya itu sampai ke pembayaran PBB. Penurunannya bisa mencapai sekitar 70 persen. Kami sering kelabakan karena banyak yang tidak mampu membayar,” ujar Heri saat ditemui di kantornya, Senin 10 Agustus 2026.

Kondisi tersebut membuat Heri berpikir mencari alternatif agar lahan pertanian yang sudah lama tidak produktif kembali menghasilkan.

Alih-alih membiarkannya terbengkalai, ia memilih tanaman jagung sebagai salah satu solusi. Alasannya sederhana, jagung dinilai lebih mampu bertahan pada kondisi lahan dengan keterbatasan air dibandingkan tanaman padi.

“Kami memilih jagung karena tanaman ini tidak terlalu banyak membutuhkan air. Jadi, menurut kami lahan-lahan yang sudah lama tidak produktif ini masih sangat cocok untuk ditanami jagung,” katanya.

Berawal dari Satu Hektare

Upaya tersebut mulai dilakukan sekitar dua tahun lalu. Heri mengawali penanaman jagung di lahan seluas kurang lebih satu hektare.

Hasil panen pertama ternyata cukup menjanjikan. Keberhasilan itu kemudian menarik perhatian pemilik lahan lainnya.

Secara perlahan, luas lahan yang ditanami jagung terus bertambah hingga kini mencapai sekitar delapan hektare.

“Saat pertama kali menanam, luasnya sekitar satu hektare. Alhamdulillah hasilnya cukup baik. Dari situ banyak masyarakat yang mulai tertarik, sampai sekarang setelah berjalan sekitar dua tahun luas lahan yang kami tanami sudah mencapai delapan hektare,” ungkap Heri.

Menariknya, pengembangan lahan jagung tersebut tidak menggunakan anggaran pemerintah desa.

Heri menegaskan seluruh modal yang digunakan untuk kegiatan tersebut berasal dari dana pribadinya.

“Walaupun saya sebagai kepala desa, tetapi untuk kegiatan ini tidak ada sepeser pun modal yang bersumber dari anggaran desa. Semuanya menggunakan modal pribadi,” tegasnya.

Bukan Sekadar Menghasilkan Jagung

Perubahan fungsi lahan tersebut ternyata membawa dampak lebih luas. Ladang jagung tidak hanya kembali membuat tanah menghasilkan, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi warga sekitar.

Mulai dari proses penanaman, perawatan, pemanenan hingga penjemuran, masyarakat mendapatkan kesempatan untuk bekerja.

“Kalau sedang musim kerja, mulai dari menanam, merawat, panen sampai menjemur, ada sekitar 45 sampai 50 orang pekerja yang terlibat,” kata Heri.

Dengan demikian, lahan yang sebelumnya tidak memberikan manfaat ekonomi kini justru menjadi sumber penghasilan bagi puluhan warga.

Bagi masyarakat, kehadiran aktivitas pertanian tersebut menjadi alternatif pekerjaan di tengah kondisi sektor pertanian yang sebelumnya mengalami stagnasi akibat persoalan air.

Sekali Panen Bisa 4-5 Ton per Hektare

Dari sisi produksi, Heri menyebut hasil tanaman jagung cukup menjanjikan. Dalam satu kali panen, setiap hektare lahan rata-rata mampu menghasilkan sekitar 4 hingga 5 ton jagung kering.

Namun, persoalan harga masih menjadi tantangan tersendiri karena nilainya mengikuti kondisi pasar dan harga pembelian.

Alhamdulillah, setiap panen dari satu hektare bisa menghasilkan sekitar empat sampai lima ton jagung kering. Untuk harga memang tidak selalu sama, tergantung harga pembelian dari Bulog,” jelasnya.

Heri berharap aktivitas tersebut dapat terus berkembang dan menjadi salah satu alternatif untuk menghidupkan kembali lahan pertanian yang selama bertahun-tahun tidak produktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *