INILAHTASIK.COM | Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya bergerak cepat menangani dampak kebakaran yang melanda Kampung Satron, Desa Parumasan, Kecamatan Sodonghilir yang terjadi pada Rabu sore kemarin (5/8/2026).
Melalui Dinas Sosial PPKB P3A bersama Forum Koordinasi (FK) Tagana Kabupaten Tasikmalaya, bantuan tanggap darurat mulai disalurkan kepada warga yang terdampak, Kamis 6 Agustus 2026.
Penyaluran bantuan tersebut melibatkan unsur Kecamatan Sodonghilir, Polsek Sodonghilir, Pemerintah Desa Parumasan, Kampung Siaga Bencana (KSB) Sodonghilir, hingga Relawan Penanggulangan Bencana (RPB) sebagai bentuk kolaborasi dalam percepatan penanganan pasca bencana.
Sebanyak 11 kepala keluarga (KK) atau 34 jiwa menerima bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat. Bantuan yang disalurkan meliputi paket sembako yang bersumber dari APBD, kasur lipat, selimut, family kit, makanan siap saji dan lauk pauk dari APBN, sandang anak, popok bayi, hingga pakaian anak.
Ketua FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan pendistribusian bantuan merupakan langkah cepat agar para penyintas tidak kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.
“Kami bersama Dinas Sosial PPKB P3A Kabupaten Tasikmalaya bergerak secepat mungkin menyalurkan bantuan kepada para korban. Harapannya, kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi selama masa tanggap darurat dan mereka merasa tidak sendiri menghadapi musibah ini,” ujar Jembar.
Ia menambahkan, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat kewilayahan, serta para relawan untuk memastikan proses penanganan dan pemulihan berjalan optimal.
“Sinergi semua pihak menjadi kunci dalam penanganan bencana. Kami akan terus mendampingi warga terdampak, baik dalam proses pendataan maupun pemenuhan kebutuhan kemanusiaan hingga kondisi mereka berangsur pulih,” katanya.
Berdasarkan hasil pendataan di lapangan, kebakaran mengakibatkan 12 bangunan terdampak, terdiri dari 11 unit rumah warga dan 1 bangunan MTs Al-Hidayah Satron. Dari jumlah tersebut, enam rumah mengalami rusak berat atau terbakar seluruhnya, dua rumah rusak sedang, dan tiga rumah lainnya mengalami kerusakan ringan.
“Para korban terdampak sebagian besar tinggal sementara di rumah saudaranya, sementara dua kepala keluarga lainnya tinggal di tenda pengungsian yang kita siapkan,” tutur Jembar.
Ia berharap kolaborasi antara Dinas Sosial, FK Tagana, pemerintah kecamatan, desa, aparat keamanan, KSB, RPB, serta berbagai elemen lainnya dapat mempercepat pemulihan kondisi masyarakat sehingga para korban dapat segera kembali menjalani aktivitas secara normal.











