INILAHTASIK.COM | Pernahkah kita membayangkan detik-detik terakhir saat napas kita berembus untuk yang terakhir kalinya? Di momen ketika riuh dunia perlahan memudar, harta tak lagi berarti, dan keluarga tercinta hanya bisa berdiri memandang pasrah, ada sebuah perjalanan agung yang sedang menanti setiap jiwa.
Bagi seorang mukmin yang telah berjuang menjaga imannya, kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan awal kepulangan yang penuh kemuliaan.
Pelukan Kehangatan dari Langit
Saat masa di dunia telah genap dan pintu akhirat mulai menyapa, Allah tidak membiarkan hamba-Nya sendirian. Para malaikat turun membawa keharuman surga kain kafan dan minyak wangi (hanuth) dari surga. Mereka duduk berjejer sejauh mata memandang, memberi rasa aman pada jiwa yang sedang bersiap meninggalkan segalanya.
Lalu, malaikat maut pun datang dan berbisik lembut :
اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ، اخْرُجِي إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ
وَرِضْوَانِهِ
“Keluarlah wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridaan-Nya…”
Maka, berpisahlah ruh dari jasadnya dengan begitu lembut:
فَتَسِيلُ نَفْسُهُ كَمَا تَقْطُرُ الْقَطْرَةُ مِنَ السَّقَاءِ
“Maka jiwanya pun keluar dengan mengalir seperti menetesnya titisan air dari bibir bejana.”
Tanpa rasa sakit yang menyiksa, tanpa rasa takut yang mencekam. Saat ruh itu terangkat ke langit, para malaikat Muqarrabun mengiringinya dengan penuh penghormatan hingga tiba di hadapan Arsy Sang Maha Pencipta.
Setibanya jiwa itu di hadapan Arsy dan dicatat namanya di tempat tertinggi (‘Illiyyin), Allah Azza wa Jalla berfirman dengan kasih sayang-Nya:
رُدُّوا عَبْدِي إِلَى مَضْجَعِهِ، فَإِنِّي وَعَدْتُهُمْ أَنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ، وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ، وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى
“Kembalikanlah hamba-Ku ke tempat perbaringannya, karena Aku telah berjanji kepada mereka bahwa dari tanah Aku menciptakan mereka, ke dalamnya Aku mengembalikan mereka, dan dari sana pula Aku mengeluarkan mereka pada kali yang lain.”
Teman Sejati di Alam Kubur
Maka jiwa itu pun dikembalikan ke tempat perbaringannya di alam kubur. Di tempat yang gelap dan sunyi itu, orang-orang tercinta telah pulang meninggalkan kita sendirian. Namun, bagi jiwa yang taat, kubur tak akan pernah menjadi tempat yang menakutkan.
Setelah berhasil menjawab pertanyaan para malaikat dengan keteguhan iman, kubur itu seketika dilapangkan sejauh mata memandang. Tiba-tiba, datang sosok berwajah tampan, berpakaian indah, dan beraroma sangat harum. la tersenyum hangat dan memuji kebaikan sang mayit di dunia.
Ketika ditanya siapakah dirinya, sosok anggun itu menjawab dengan lembut:
أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ
“Aku adalah amal salehmu.”
Inilah sahabat sejati yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Salat yang kita tegakkan di sepertiga malam, sedekah yang kita keluarkan secara sembunyi-sembunyi, serta setiap tetes air mata penyesalan atas dosa-dosa kita-semuanya menjelma menjadi sosok indah yang memeluk dan menemani kita di alam kubur.
Menunggu Hari Pertemuan
Di akhir perjalanan awal itu, sebuah jendela menuju surga dibukakan. Angin sejuk dan keharuman surga berembus masuk, memperlihatkan tempat tinggal indah yang telah disiapkan Allah hingga hari kiamat tiba.
Tak ada lagi rasa lelah, tak ada lagi air mata kesedihan, yang ada hanyalah kedamaian yang abadi.
Ingatlah! Dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Pada akhirnya, kita semua akan menempuh perjalanan yang sama.
Pertanyaannya, sosok seperti apa yang akan menemani kita di dalam kubur kelak? Wajah tampan beraroma wangi dari amal saleh, ataukah sesuatu yang lain?
Selagi napas masih berembus dan jantung masih berdetak, belum terlambat untuk merapikan bekal. Mari kita hiasi hari-hari kita dengan kebaikan, agar saatnya tiba kelak, jiwa kita dipanggil dengan sapaan terindah:
اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
“Keluarlah wahai jiwa yang tenang…”
Referensi: Kitab Ar-Ruh, Halaman : 131











