Opini  

Kasus Meninggalnya Raya Akibat Infeksi Cacing, Peringatan Serius Dalam Perlindungan Kesehatan di Negeri Ini

INILAHTASIK.COM | Kisahnya seorang Balita perempuan  bernama Raya asal kampung Padangenyang, desa Cianaga, kecamatan Kabandungan, Sukabumi, ramai menjadi perbincangan publik. Pasalnya balita ini meninggal setelah berjuang melawan cacing-cacing yang sudah menggerogoti organ tubuhnya, termasuk otak dan paru-paru.

Diduga yang menjadi sumber infeksi cacingan pada Raya ialah kondisi lingkungan tempat tinggal  yang tidak layak. Rumah berbentuk panggung dengan kolong rumah dijadikan kandang ayam, diduga juga keseharian Raya bermain di tempat tersebut. Hal ini diperparah oleh kondisi kedua orang tua Raya yang sakit. Ayahnya mengidap TBC, dan ibunya alami gangguan jiwa (ODGJ). Sehingga pengasuhan dan perkembangan Raya tidak terpantau. 

Pada tanggal 13 juli, tim relawan  menemukan Raya sudah dalam kondisi kritis dan langsung dilarikan ke RSUD R Syamsudin, Sukabumi. Hanya 9 hari perawatan, akhirnya Raya menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 22 Juli 2025. Pihak rumah sakit mengatakan terlambat dibawa ke Rumah Sakit, sehingga menyulitkan pihaknya melakukan penanganan medis (Tribunnews.com, 21 Agustus 2025).

Banyak pihak turut prihatin atas meninggalnya Raya, termasuk Mentri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi. Beliau menyampaikan keprihatinan yang mendalam, dan menyatakan kasus ini menjadi peringatan serius mengenai perlindungan hak anak, terutama bidang kesehatan, pengasuhan, dan lingkungan hidup yang layak. Dimana ketiganya merupakan tanggungjawab bersama, bukan hanya orang tua. 

Mekanisme pelayanan kesehatan dalam sistem hari ini yang begitu rumit, membuat banyak  masyarakat kesulitan mendapatkan hak perlindungan dalam bidang kesehatan. Terlebih bagi masyarakat miskin. Lain halnya bagi mereka yang bercuan, pelayanan kesehatan diberikan tanpa prosedur yang berbelit. 

Itulah gambaran pelayanan kesehatan dalam negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Dimana orientasinya adalah materi. Si kaya bisa dengan mudah mendapatkan akses kesehatan, sedangkan si miskin akan dipersulit. Sehingga keluar jargon “orang miskin dilarang sakit”. Karena saking rumitnya bagi mereka untuk mendapat pelayanan kesehatan. 

Kasus ini juga menunjukkan bahwa negara abai terhadap rakyat. Kenapa? Karena Raya harus hidup dalam lingkungan yang tidak sehat dan dalam kondisi sakit. Negara dalam sistem ini berfungsi sebagai regulator pembuat kebijakan. Kebijakan yang banyak berpihak pada para korporat atau para pemilik modal. 

Padahal dalam IsIam dijelaskan bahwa negara harus berfungsi sebagai pengurus urusan umat. Mengurus dalam hal penjaminan terpenuhinya kebutuhan pokok dan kebutuhan dasar lainnya, termasuk kesehatan. 

Dalam IsIam, negara bertanggungjawab menjamin perlindungan kesehatan. Negara akan menyediakan layanan kesehatan gratis, prosedur mudah, fasilitas terbaik, dan mudah diakses oleh semua kalangan. Tidak ada perbedaan ras, warna kulit dan status sosial. 

Selain itu kondisi sosial masyarakat dalam IsIam akan terjaga. Sebab, masyarakat dalam IsIam bukan hanya sekumpulan individu saja. Akan tetapi sekumpulan individu yang diikat dengan 3P, pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama yaitu IsIam. Dengan akidah yang tertancap kuat dalam setiap individu akan melahirkan kepekaan yang kuat terhadap sesama saudara muslim. Maka ketika ada saudaranya yang kesusahan, mereka akan spontan untuk membantunya. Karena Allah juga memerintahkan dalam Al-Quran:

“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.. ” (TQS Al-Maidah:2). 

Wallaahua’lam

Oleh : Yayat Rohayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *