INILAHTASIK.COM | “Hana nguni hana mangké, tan hana nguni tan hana mangké, aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna, hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang, hana ma tunggulna aya tu catangna, (hana guna) hana ring demakan…”
Artinya:
“Ada dahulu ada sekarang, Tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang; ada masa lalu ada masa kini, bila tidak ada masa lalu tidak akan ada masa kini; ada pokok kayu ada batang, tidak ada pokok kayu tidak akan ada batang; bila ada tunggulnya tentu ada catangnya, ada jasa ada anugerah.”
Amanat Galunggung, yang diungkapkan dalam bentuk pepatah Sunda, mengandung makna yang dalam dan luas. Ungkapan ini mengajak kita untuk merenungkan hubungan antara masa lalu dan masa kini, serta bagaimana keduanya saling mempengaruhi.
Dalam konteks ini, pernyataan “Hana nguni hana mangké, tan hana nguni tan hana mangké” menegaskan bahwa keberadaan masa kini tidak dapat dipisahkan dari sejarah yang telah dilalui. Ini mengingatkan kita bahwa setiap langkah yang kita ambil saat ini adalah hasil dari pengalaman dan pelajaran yang diperoleh dari masa lalu. Dengan kata lain, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik, kita harus memahami dan menghargai perjalanan sejarah yang telah kita lalui.
Salah satu contoh konkret dari amanat ini dapat dilihat dalam konteks pendidikan. Di dalam dunia pendidikan, kurikulum yang ada saat ini sering kali dibangun berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
Misalnya, metode pengajaran yang efektif diadopsi dari teori-teori yang telah teruji oleh waktu. Dengan memahami sejarah pengajaran dan pembelajaran, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan relevan bagi siswa. Ini menunjukkan bahwa masa lalu memiliki peran penting dalam membentuk masa kini dan masa depan pendidikan.
Lebih lanjut, pernyataan “aya ma beuheula aya tu ayeuna” mengajak kita untuk merenungkan bahwa setiap hal yang ada saat ini adalah hasil dari proses yang panjang. Dalam konteks pembangunan infrastruktur, misalnya, kita dapat melihat bagaimana proyek-proyek besar yang ada saat ini, seperti jalan raya dan jembatan, merupakan hasil dari perencanaan dan pemikiran yang telah dilakukan bertahun-tahun sebelumnya.

Ketika kita mengamati sebuah jembatan megah, penting untuk diingat bahwa di balik keberadaannya terdapat banyak penelitian, perencanaan, dan juga pengalaman dari proyek-proyek sebelumnya yang telah berhasil maupun gagal. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mencapai keberhasilan, kita perlu belajar dari sejarah, baik dari keberhasilan maupun kegagalan yang telah terjadi.
Selanjutnya, frasa “hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna” memberikan penekanan pada pentingnya pengakuan terhadap akar sejarah kita. Dalam konteks budaya, misalnya, banyak tradisi dan nilai-nilai yang kita anut saat ini merupakan warisan dari nenek moyang kita. Jika kita mengabaikan atau melupakan sejarah tersebut, kita mungkin kehilangan identitas kita sebagai suatu bangsa.
Oleh karena itu, mengingat dan merayakan sejarah adalah langkah penting dalam menjaga keberlanjutan budaya dan identitas kita. Contoh yang relevan adalah perayaan hari kemerdekaan yang tidak hanya menjadi momen untuk merayakan kebebasan, tetapi juga untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan.
Lebih jauh lagi, ungkapan “hana tunggak hana watang” menggambarkan pentingnya fondasi yang kuat dalam setiap aspek kehidupan. Dalam bisnis, misalnya, perusahaan yang sukses biasanya memiliki visi dan misi yang jelas, yang sering kali berasal dari nilai-nilai yang telah ditetapkan sejak awal berdirinya perusahaan.
Sebuah perusahaan yang tidak memiliki dasar yang kuat mungkin akan kesulitan untuk bertahan di tengah persaingan yang ketat. Contohnya, banyak perusahaan besar yang saat ini sukses, seperti Apple dan Microsoft, telah membangun reputasi dan nilai-nilai mereka sejak awal berdiri. Dengan memahami dan mempertahankan nilai-nilai tersebut, mereka dapat terus berinovasi dan berkembang, meskipun menghadapi tantangan yang berubah-ubah.
Dalam analisis lebih dalam, kita juga perlu mempertimbangkan bagaimana amanat Galunggung ini dapat diterapkan dalam konteks lingkungan dan keberlanjutan. Saat ini, banyak masalah lingkungan yang kita hadapi, seperti perubahan iklim dan kerusakan ekosistem, merupakan akibat dari tindakan manusia di masa lalu.
Dengan mengingat dan belajar dari kesalahan yang telah dilakukan, kita dapat mengambil langkah-langkah yang lebih bijaksana untuk melindungi lingkungan kita. Misalnya, praktik pertanian berkelanjutan yang mengedepankan perlindungan tanah dan sumber daya air adalah salah satu cara untuk memastikan bahwa generasi mendatang dapat menikmati sumber daya yang sama seperti yang kita miliki saat ini.
Kesimpulannya, amanat Galunggung mengingatkan kita akan pentingnya menghargai masa lalu untuk mempersiapkan masa depan. Dengan memahami hubungan antara masa lalu dan masa kini, kita dapat mengambil pelajaran berharga yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, budaya, hingga lingkungan.
Sebagai individu dan masyarakat, kita memiliki tanggung jawab untuk melestarikan sejarah dan nilai-nilai yang telah diwariskan kepada kita, serta menggunakannya sebagai panduan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, kita tidak hanya menghormati apa yang telah terjadi, tetapi juga berkontribusi pada kelangsungan dan kemajuan yang berkelanjutan.

Oleh: Dadang Cunandar, S.Pd., M.Pd.
(Dosen STKIP Pancakarya Tasikmalaya)











