Opini  

Dua Dunia Satu Iman, Catatan Seorang Santri di Tengah Riuhnya Kampus

INILAHTASIK.COM | Tidak semua orang diberi kesempatan untuk menjalani dua dunia sekaligus: pesantren dan kampus. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat biasa. Namun bagi saya, ini adalah perjalanan yang penuh cerita, antara lelah, bingung, serta rasa syukur yang tak terhingga.

Di pesantren, saya belajar tentang makna hidup yang sebenarnya. Bangun dini hari, mengaji, menjaga adab, dan hidup dalam kesederhanaan menjadi bagian dari proses yang membentuk hati. Pesantren mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan dengan penuh keikhlasan.

Sementara di kampus, saya dihadapkan pada dunia yang berbeda. Tugas yang menumpuk, diskusi yang menuntut pemikiran kritis, serta aktivitas organisasi. Semua berjalan cepat, seolah tidak memberi ruang untuk berhenti.

Di antara dua dunia ini, saya sering berada pada posisi yang tidak mudah.

Ada saat ketika tugas kuliah harus segera diselesaikan, sementara kegiatan pesantren tidak bisa ditinggalkan. Keduanya adalah kewajiban, keduanya adalah prioritas. Dalam kondisi seperti itu, saya sering kali bingung harus memilih yang mana.

Tidak jarang, saya harus mengorbankan salah satunya. Ketika memilih menyelesaikan tugas kuliah, ada rasa bersalah karena meninggalkan kewajiban di pesantren. Sebaliknya, ketika mendahulukan pesantren, ada kekhawatiran terhadap tanggung jawab akademik yang tertunda.

Lelah? Tentu.
Bingung? sering.

Namun di balik semua itu, saya menyadari satu hal; “Saya sangat bersyukur”.

Di tengah hiruk-pikuknya zaman dan dinamika kehidupan kampus yang penuh tantangan, Allah Ta’ala masih menakdirkan saya untuk menempuh pendidikan tinggi sekaligus tetap berada di lingkungan pesantren. Bagi saya, ini bukan sekadar kesempatan, tetapi nikmat yang luar biasa.

Dari situlah saya mulai memahami bahwa setiap jalan yang saya tempuh adalah bagian dari proses yang telah Allah siapkan. Sebagaimana firman-Nya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Saya percaya, setiap lelah yang saya rasakan adalah bagian dari kepercayaan itu.

Menjadi santri di kampus bukan hanya soal identitas, tetapi tentang menjaga iman di tengah derasnya arus perubahan zaman. Ketika kesibukan datang bertubi-tubi, di situlah kita belajar tentang prioritas dan keikhlasan.

Pesantren menguatkan hati saya, sementara kampus dan organisasi melatih langkah saya. Keduanya tidak saling melemahkan, justru saling menguatkan.

Karena pada akhirnya, menjadi santri di tengah dunia kampus bukan tentang menjadi yang paling sempurna, tetapi tentang tetap berjalan di jalan yang benar—meski perlahan, tetap menjaga cahaya iman di tengah gelapnya godaan, serta tetap bertahan, meski dunia tidak selalu ramah.

Oleh: Irna Faojatun Marwah
Mahasiswi UPI Kampus Tasikmalaya – Prodi PGSD

Staf Departemen Keagamaan LINTAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *