INILAHTASIK.COM | Tinggal berdua di sebuah kontrakan kecil berukuran 3×4 meter, Icuh Sutisna (64), bersama sang istri Ai Rohayati (50), hidup dalam serba kekurangan, keduanya luput dari perhatian pemerintah.
Bangunan kecil yang tak memiliki dapur dan toilet itu, menjadi saksi bagaimana Icuh dan istrinya berjuang menjalani hidup ditengah keterbatasan ekonomi yang terus menghimpit keluarganya.
Ragam jenis bantuan sosial pemerintah, mulai dari program keluarga harapan (PKH), bantuan pangan non tunai (BPNT), kartu keluarga sejahtera (KKS) dan bantuan sosial lainnya, tak satu pun menyentuh Icuh dan keluarga.
Warga Bantar RT 02 RW 06 Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya ini tak mampu berbuat banyak. Pengurus setempat juga bukan tidak pernah mengusulkan Icuh agar mendapat bantuan sosial, namun rupanya kebijakan pemerintah belum berpihak terhadap keluarganya.
Riwayat penyakit lambung, paru paru dan asma, yang diderita Icuh dan istri, membatasi aktivitas keduanya. Mereka tidak mampu beraktivitas normal seperti warga pada umumnya. Jika melakukan aktivitas berlebih, penyakit yang diderita seketika kambuh.
Edwin, Tokoh Masyarakat setempat mengatakan, bahwa pihaknya sudah berupaya mengusulkan bantuan kepada pemerintah Kota Tasikmalaya, namun hingga kini minim realisasi.
“Sudah diusulkan ke kelurahan, bahkan ke Dinas Sosial supaya pak Icuh bisa dapat bantuan sosial. Tapi sampai sekarang mereka tidak pernah menerima bantuan,” kata Edwin.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selepas tak lagi bekerja sebagai sopir bus jurusan Tasikmalaya Selatan, Icuh berkerja serabutan, dan harus memilih pekerjaan yang sekiranya tak berisiko memicu penyakit paru parunya kambuh.
“Pak Icuh ini kan punya riwayat penyakit paru paru, jadi kalau bekerja berat, pasti penyakitnya kambuh. Begitu pun dengan istirnya, bu Ai juga sama, dia punya penyakit asma, sehingga aktivitas keduanya cukup terbatas,” tutur Edwin, kepada wartawan, Rabu 20 Agustus 2025.
Pihaknya berharap, pemerintah Kota Tasikmalaya dapat terbuka matanya, melihat kondisi warganya yang benar benar layak untuk dibantu. Jangan sampai, program bantuan sosial yang digulirkan, di nikmati oleh mereka yang tak layak menerima.
Mendapati kondisi prihatin yang dihadapi Icuh dan keluarga, Yayasan Padi Nusantara Sejahtera melalui program Save Jompo, pada Rabu siang, 20 Agustus 2025, mendatangi rumah kontarakan yang mereka tinggali.
Sebelum bantuan diberikan, tim terlebih dahulu menggali informasi, memastikan bahwa Icuh dan keluarga memang layak untuk dibantu, agar bantuan yang diberikan benar benar tepat sasaran.
Icuh Sutisna dan istri mengaku tak menyangka bakal mendapat bantuan beras dan uang tunai dari Yayasan Padi. Ia tak henti hentinya mengucap syukur atas bantuan yang diterima.
“Alhamdulillah, Alhamdulillah, haturnuhun kana bantosanna. Teu nyangki sama sekali bakal nampi bantosan beas (terimakasih atas bantuannya. Tidak menyangka sama sekali bakal menerima bantuan beras),” ucap Icuh dengan nada sendu.
“Mudah mudahan bantuan yang diberikan mendapat balasan yang berlipat dari Alloh. Sekali lagi terimakasih,” sambungnya, sambil mendo’akan pengurus Yayasan Padi senantiasa diberi keberkahan.











