Opini  

Gelap di Bawah Terang Anggaran, Kemana Larinya PPJ? 

Oleh : Irwan Supriadi Iwok

PEMANTIK-Pergerakan Masyarakat Anti Korupsi 

INILAHTASIK.COM | Di Kota Tasikmalaya, gelap bukan hanya suasana malam hari, tapi juga metafora pelayanan publik. Di saat warga membayar Pajak Penerangan Jalan (PPJ) tiap bulan tanpa diskon, lampu lampu jalan justru ramai ramai padam. Ironisnya, yang terang justru janji janji pejabat. 

Sekretaris Daerah menyebut bahwa, “PJU sudah dianggarkan. Setelah dievaluasi Pemprov, dalam 14 hari ke depan akan dilaksanakan,” katanya. Tapi kita tahu, 14 hari dalam kamus birokrasi bukan dua pekan. Bisa menjelma jadi 14 alasan baru untuk menunda. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Tasikmalaya mengakui, tiap tahun ada sekitar 1.600 titik lampu yang padam. Tapi yang bisa diperbaiki hanya sekitar 330 titik saja. Kenapa? Karena anggarannya cuma Rp 900 juta. Pertanyaannya, ke mana larinya dana PPJ yang ditarik tiap bulan dari jutaan pelanggan listrik di Tasikmalaya? 

Menurut data yang beredar, pemasukan dari PPJ bisa mencapai lebih dari Rp 30 miliar per tahun. Tapi untuk lampu jalan, hanya disisihkan Rp 900 juta? Itu artinya, kurang dari 3 persen dari pemasukan dikembalikan untuk fungsi aslinya. 

Lalu 97 persen sisanya buat apa? Mungkin sedang menerangi ruang ruang gelap kebijakan yang tak terjangkau logika publik. Atau digunakan membayar retorika dalam bentuk spanduk, baliho, dan seremoni tahunan bertema “Tasik Caang”. 

Jika benar penyebab utama padamnya lampu karena usia lampu sudah habis, maka boleh jadi, usia empati pejabat pun demikian. Sudah habis oleh tumpukan laporan, rapat evaluasi, dan wacana tak berkesudahan. 

Kita paham, tidak semua bisa diperbaiki sekaligus. Tapi menormalisasi kegelapan sebagai hal biasa adalah bentuk pengabaian sistematis. Apalagi jika diucapkan dengan kalimat manis: “Kami realistis sesuai kemampuan anggaran.” Padahal, kemampuan anggaran bukan turun dari langit. Ia hasil dari prioritas politik, mana yang dianggap penting, dan mana yang bisa ditunda. 

Jika PJU dianggap bukan prioritas, maka jangan salahkan publik bila nanti kegelapan dilawan dengan suara. Karena ketika lampu lampu padam di jalan, warga mulai menyalakan akalnya di bilik suara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *