Opini  

Surga Di Telapak Kaki Ibu Yang Terlupakan

INILAHTASIK.COM | “Satu ibu mampu merawat 10 anak, tapi 10 anak belum tentu bisa merawat seorang ibu”.

Ungkapan di atas menggambarkan ironi kehidupan yang kita saksikan hari ini. Seorang ibu dengan curahan kasih sayang yang besar mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan jumlah banyak. Namun sangat disayangkan, ketika ibu menua tak berdaya, anak-anaknya tidak mampu, bahkan tidak mau merawat sang ibu dengan berbagai alasan. 

Bulan lalu viral di media sosial, seorang nenek berusia 74th diserahkan ke Griya Lansia oleh dua anaknya. Yang membuat sesak hati, mereka menandatangani perjanjian bahwa setelah itu mereka tidak boleh bertemu ibunya lagi, dan rela tidak dikabari jika sampai ibunya meninggal. Parahnya lagi, mereka menyetujui tanpa ada rasa sedih dan berdosa (Kompas.com, 30/6).

Dengan dalih sibuk dan takut tak bisa mengurus ibunya yang sudah tak mampu berjalan, mereka tega menoreh luka dimasa tua sang ibu, dengan menitipkannya ke panti jompo. 

Hal ini membuat netizen marah, ribuan komentar membanjiri video yang diposting oleh pemilik yayasan Griya Lansia tersebut. Tak tahan dengan hujatan dan kecaman netizen, akhirnya si ibu dibawa kembali pulang oleh kedua anaknya. 

Terbaru, viral kembali video seorang ibu yang  terlihat sedih ketika dibawa oleh pihak yayasan griya lansia. Ibu di Surabaya ini dititipkan oleh keempat anaknya dengan alasan tak ada yang mampu mengurus si ibu dengan kondisi struk (detik.com, 17/7/25).

Betapa kuat sekulerisme hingga surga dibawah telapak kaki ibu terlupakan oleh generasi dalam sistem yang berorientasi materi dan kering dari ruh IsIam. 

Tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin mahal, ditambah sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak, membuat beban para pencari nafkah semakin berat. 

Negeri yang katanya Gemah Ripah Loh Jinawi tak mampu mensejahterakan rakyat, sebab sebagian besar sumber daya alam dikuasai oleh para pemilik modal. Akhirnya yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin. 

Kemiskinan terstruktur inilah menjadi penyebab terbesar lahirnya generasi yang menelantarkan surga mereka. 

Padahal, Rasulullah saw bersabda:

“Surga di bawah telapak kaki ibu” (HR. Ahmad)

Hadist ini menggambarkan betapa pentingnya berbakti kepada seorang ibu, menghormatinya, dan berusaha mendapatkan keridhaannya sebagai jalan menuju surga. 

Selain itu sebagai bentuk birrul walidain, IsIam menekankan betapa pentingnya mendahulukan berbuat baik kepada ibu. 

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “siapa yang berhak aku perlakukan dengan baik?”. Rosulullah saw menjawab ” Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu”.

Hadist ini menunjukkan bahwa prioritas utama dalam penghormatan dan perlakuan baik dari seorang anak adalah ibu. 

Sebagian umat pasti memahami pentingnya berbakti kepada kedua orangtua (birrul walidain). Akan tetapi terkalahkan dengan tuntutan hidup yang keras dalam sistem hari ini. 

Berbeda dengan sistem IsIam, dimana sistem yang berlandaskan Al-Quran dan sunnah ini, akan mengatur seluruh aspek kehidupan. 

Diantaranya, dalam bidang pendidikan. Pendidikan dalam Islam berlandaskan akidah Islam, sehingga membentuk generasi dengan kepribadian Islam yang kuat. Dengan landasan akidah Islam yang kuat lahirlah generasi yang menjadikan halal haram sebagai landasan dalam beramal.

Lalu, dalam lingkungan keluarga. Keluarga dalam Islam dibangun atas dasar kasih sayang dan ketakwaan. Setiap anggota keluarga memahami hak dan kewajibannya, dan bersama menciptakan suasana yang penuh cinta dan rasa hormat.

Kemudian, kontrol sosial dari masyarakat. Masyarakat dalam Islam memiliki kontrol sosial yang kuat melalui aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. 

Yang terakhir dan terpenting adalah adanya negara yang menerapkan syariat Islam secara keseluruhan. Negara yang mengurus/meriayyah umat. Mulai dari urusan kebutuhan pokok sandang, pangan, papan dan kebutuhan dasar lainnya seperti kesehatan, pendidikan dan keamanan. 

Rasulullah saw bersabda:

“Imam (khalifah) adalah raa’in (pengurus hajat hidup rakyat) dan bertanggungjawab atas rakyatnya” (HR.Muslim, Ahmad). 

Wallahua’lam.

oleh: Yayat Rohayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *