Opini  

Kematian itu Keniscayaan, Husnul Khotimah itu Pilihan

INILAHTASIK.COM | Setiap hari manusia disibukkan dengan urusan dunia, mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya dan meraih kepuasan jasadiyah setinggi-tingginya. Segala cara dilakukan untuk mendapatkan hal-hal duniawi, mulai dari yang halal sampai yang haram. 

Manusia bekerja mati-matian demi mendapatkan materi tersebut. Mereka bekerja di luar rumah berangkat masih gelap, pulang sudah gelap. Sebagian ada yang mengejarnya cukup santai tak menguras tenaga, seperti dengan pinjol, judol, hingga korupsi. 

Upaya pencapaian urusan dunia tersebut banyak yang berujung kerusakan rumah tangga bahkan kematian. 

Mengutip dari suara.com, 2 Oktober 2025, mengabarkan banyak perceraian yang diakibatkan oleh galbay (gagal bayar) dalam pinjol (pinjaman online). 

Kemudian, beberapa waktu lalu di  Halmahera, seorang pemuda ditangkap karena membunuh rekan kerjanya seorang perempuan. Motif dari pembunuhan adalah memaksa korban pinjamkan uang kepada pelaku, karena pelaku terjerat judol. 

Sementara di posisi tertentu, ada orang-orang yang berusaha memperkaya diri dan keluarganya dengan jalan mengambil hak orang lain. Dari detik.com didapati berita bahwa di Karawang ada kasus korupsi yang dilakukan oleh kelompok tani. Mereka korupsi sebesar Rp. 1,9 miliar dana bantuan covid-19.

Betapa banyak urusan dunia dikerjakan dengan mengedepankan nafsu belaka, tanpa memikirkan halal dan haram. Karena sistem yang mengatur kehidupan hari ini bersumber dari manusia dengan sifat makhluknya yaitu lemah, terbatas, serba kurang, dan membutuhkan yang lain. 

Aturan Allah hanya dipakai dalam ranah individu saja, seperti sholat, haji, aktivitas keagamaan lainnya. Sementara ranah lain seperti berekonomi, pendidikan, dan muamalah lainnya termasuk mencari materi bagi penghidupan dunia mereka mencampakkan hukum Allah. 

Mereka lupa akan singkatnya kehidupan dunia. Waktu terus berjalan dan semakin mendekatkan pada kematian. 

Kematian adalah keniscayaan, semua manusia akan merasakannya. Kematian datang tanpa kabar dan tak ada satu manusia yang mampu menolak kedatangannya. 

Dalam hal ini bukan kematian yang kita khawatirkan. Akan tetapi apa yang sudah kita siapkan sebelum kematian itu menghampiri. Bekal apa yang sudah kita persiapkan?

Setiap manusia pasti menginginkan kematian yang baik yakni husnul khotimah. Husnul khotimah merupakan pilihan. Ini bisa manusia upayakan jika menginginkan surganya Allah. Maka, beribadah dan taat kepada aturanNya ketika di dunia adalah salah satu upaya yang harus dilakukan. 

Allah SWT berfirman:

‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (TQS. Al-Imran:102). 

Ayat diatas Allah mengingatkan kita agar kelak meninggal dalam keadaan husnul khotimah maka kita harus bertakwa dengan sebenarnya, yakni menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya tanpa nanti dan pilih-pilih. 

Sebagian individu bisa melakukan ketaatan terhadap syariatNya. Akan tetapi tidak bisa secara kaffah (keseluruhan). Sebab, sistem yang melekat di negeri ini adalah sistem buatan manusia, bukan berasal dari Allah yang maha mengetahui hakikat manusia sebagai makhlukNya. 

Oleh sebab itu, jika menginginkan meraih takwa  hakiki yang menghantarkan kita kepada husnul khotimah dan surgaNya, diperlukan negara yang menerapkan syariat Allah secara keseluruhan bukan negara yang memisahkan antara agama dan kehidupan (sekulerisme) seperti sekarang. 

Wallahua’lam.

Oleh : Yayat Rohayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *