Opini  

Self-Reward atau Self-Defeat? Jebakan Batman di Balik Kata Apresiasi Diri

INILAHTASIK.COM | Pernah nggak sih, baru ngerjain satu paragraf tugas kuliah, terus batin langsung bilang, “Duh, capek banget ya produktif hari ini. Kayaknya butuh self-reward nonton satu episode drakor deh.” Eh, nggak taunya keterusan sampai tamat satu season, dan tugas tadi terbengkalai sampai subuh.

Fenomena self-reward ini emang lagi naik daun banget di kalangan kita, para mahasiswa. Alasannya simpel: kita butuh apresiasi atas lelahnya revisi, rapat organisasi yang nggak kelar-kelar, atau sekadar bertahan hidup di tengah gempuran deadline. Tapi jujur deh, kadang batas antara “menghargai diri” dan “memanjakan rasa malas” itu setipis tisu dibagi dua.

Kalau kita nggak hati-hati, yang tadinya niat mau self-reward malah jadi self-defeat alias kita sendiri yang bikin diri kita kalah dan terpuruk.

Apresiasi atau Alibi?

Sebenarnya nggak ada yang salah dengan memanjakan diri. Sebagai manusia, kita punya kapasitas energi yang terbatas. Masalahnya muncul ketika self-reward dijadikan teman buat prokrastinasi.

Misalnya, kita belum mulai apa-apa, tapi sudah beli kopi mahal atau checkout keranjang belanja dengan alasan “biar semangat nugas”. Ujung-ujungnya? Kopinya habis, dompet tipis, tapi laptop masih blank page. Ini bukan lagi apresiasi diri, tapi alibi buat nunda tanggung jawab. Padahal, hadiah yang paling manis itu datangnya SETELAH perjuangan, bukan sebelum perang dimulai.

Belajar dari “Saraf Kebermanfaatan”

Kalau kita tarik ke nilai soal “Mahasiswa Syamil”, keseimbangan itu kunci . Mahasiswa yang utuh itu tahu kapan harus gas pol dan kapan harus ngerem. Menghargai diri sendiri itu penting supaya mental kita nggak burnout, tapi menghargai waktu dan amanah orang tua itu jauh lebih utama.

Ingat, setiap tugas yang kita selesaikan itu adalah bentuk rasa syukur atas kesempatan belajar yang nggak semua orang punya. Jadi, kalau kita terus-terusan “menghadiahi” diri atas kemalasan, sebenarnya kita lagi mengkhianati potensi besar yang ada di dalam diri kita sendiri.

Gimana Cara “Reward” yang Benar?

Biar nggak terjebak, coba deh ubah polanya. Jadikan self-reward sebagai milestone.
“Kalau bab 1 ini selesai, baru boleh scrolling TikTok 15 menit.”
“Kalau presentasi besok sukses, baru kita makan enak bareng teman.”

Dengan begitu, hadiah yang kita kasih ke diri sendiri terasa lebih bermakna karena ada “harga” yang sudah kita bayar lewat kerja keras. Kita jadi punya kendali penuh atas diri kita, bukan malah dikendalikan oleh keinginan sesaat.   Jadi,,,,
Menjadi mahasiswa yang bijak itu artinya tahu bedanya mencintai diri sendiri dengan memanjakan nafsu. Jangan sampai atas nama mental health atau self-love, kita justru membiarkan masa depan kita jalan di tempat.

Yuk, mulai sekarang kita lebih jujur sama diri sendiri. Apakah kopi yang kita beli sore ini benar-benar sebuah apresiasi, atau cuma cara kita lari dari kenyataan kalau tugas belum tersentuh sama sekali?

Sayangi dirimu dengan cara yang benar: tuntaskan tanggung jawabmu, baru nikmati istirahatmu. Karena pemimpin masa depan nggak lahir dari mereka yang hobi nunda, tapi dari mereka yang tahu cara menaklukkan diri sendiri.

Oleh: Ai Asti Ramjani
Mahasiswi UPI Kampus Tasikmalaya – Prodi PGPAUD

Staf Departemen Keagamaan LINTAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *