Opini  

Keluarga Adalah pondasi utama untuk membangun budaya baca

INILAHTASIK.COM | Budaya baca tidak terbentuk secara instan ketika seorang anak memasuki sekolah atau bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Jauh sebelum itu, proses pembentukan karakter,kebiasaan, dan cara berfikir telah dimulai di dalam keluarga.

Dalam perspektif pendidikan islam,keluarga dikenal sebagai al madrasah al ula (sekolah pertama), yaitu tempat seorang anak pertama kali belajar mengenai nilai,adab,dan kebiasan hidup. oleh karena itu, jika ingin membangun generasi yang gemar membaca dan memiliki budaya literasi yang kuat, maka pembangunannya harus dimulai dari rumah.

Keluarga memiliki peranan yang lebih mendasar dibandingkan lingkungan lainnya. sekolah,teman sebaya,maupun masyarakat memang memberikan pengaruh terhadap pengembangan anak, namun pengaruh tersebut hadir setelah anak membawa bekal yang dibentuk oleh keluarganya. Apa yang ditanamkan orang tua sejak dini akan menjadi landasan yang mempengaruhi bagaimana anak menyikapi berbagai pengaruh ketika ia berada di luar
rumah.

Anak pada dasarnya adalah peniru yang sangat baik, mereka tidak hanya mendengarkan nasihat, tetapi juga mengamati setiap kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya.

Ketika orangtua membiasakan membaca buku,berdiskusi,dan menyediakan waktu untuk belajar bersama,anak akan menganggap bahwa membaca merupakan bagian yang wajar dari kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya,jika budaya baca tidak pernah hadir di dalam rumah,akan sulit mengharapkan anak memiliki kecintaan terhadap dunia literasi hanya dengan pembelajaran di sekolah.

Oleh karena itu peran keluarga tidak dapat digantikan oleh institusi manapun. Sekolah dapat mengajarkan kemampuan membaca, perpustakaan dapat menyediakan bahan bacaan, dan berbagai program literasi dapat meningkatkan akses terhadap buku.

Namun, kecintaan terhadap membaca sejak lahir dari pembiasaan yang berlangsung secara konsisten di lingkungan keluarga. Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang pertama untuk anak mengenal kebiasaan yang kelak membentuk identitasnya.

Lingkungan luar memang akan memberikan pengaruh, baik positif maupun negatif. Akan tetapi, anak yang sejak kecil dibesarkan dalam keluarga yang meningkatkan budaya membaca cenederung memiliki fondasi karakter yang lebih kuat.

Mereka lebih mampu memilih informasi,berfikir kritis serta tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang mendukung perkembangan literasi. Hal ini menunjukan bahwa keluarga bukan sekedar salah satu faktor pembentuk budaya baca, melainkan podasi utama yang menentukan arah perkembangan anak.

Oleh sebab itu, upaya peningkatan budaya baca di indonesia tidak cukup jika hanya fokus pada sekolah, perpustakaan atau komunitas literasi. Gerakan literasi harus dimulai dari keluarga. Orang tua perlu menyadari bahwa setiap kebiasaan yang mereka tunjukan merupakan proses pendidikan yang akan direkam oleh anak.

Membacakan cerita sebelum tidur, menyediakan sudut baca sederhana dirumah, berdiskusi tentang isi buku, atau meluangkan waktu untuk membaca bersama merupakan langkah-langkah kecil yang memiliki dampak besar terhadap pembentukan budaya literasi.

Pada akhirnya keberhasilan membangun budaya baca tidak hanya diukur dari banyak buku yang tersedia atau kegiatan literasi yang diselenggarakan tetapi dari sejauh mana keluarga mampu menghadirkan kebiasaan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebab, anak yang tumbuh dalam keluarga yang mencintai ilmu dan membaca akan membawa kebiasaan tersebut kemanapun ia pergi. Dari rumah yang sederhana sekalipun, dapat lahir generasi pembelajar yang akan menjadi fondasi bagi terwujudnya generasi melek huruf, literat, dan berdaya saing.

Oleh: Ana Khoerunisa – Kecamatan Cikatomas

Duta Baca Kabupaten Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *