Anyaman Bambu Jadi Nadi Ekonomi Warga Kampung Cikiray Tasikmalaya

Sejumlah warga Kampung Cikiray tampak tengah meraut bambu sebelum nantinya diolah menjadi beragam jenis produk anyaman bambu. Senin (27/04/2026).

INILAHTASIK.COM | Deretan rumah sederhana di Kampung Cikiray, Desa Salawu, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, menyimpan denyut aktivitas ekonomi yang tak pernah sepi. Hampir di setiap halaman rumah, warga tampak tekun menganyam bilah-bilah bambu menjadi berbagai peralatan rumah tangga.

Kerajinan tradisional ini telah lama menjadi sandaran hidup masyarakat setempat. Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari nyiru, ayakan, boboko, hingga aseupan, yang semuanya dibuat dengan keterampilan tangan yang terlatih sejak usia dini.

Nanang, seorang warga, mengungkapkan bahwa tradisi menganyam sudah mengakar kuat di kampung tersebut. “Di Kampung Cikiray ini hampir seluruh warga menggantungkan hidup dari kerajinan anyaman bambu. Ini bukan sekadar pekerjaan, tapi warisan turun-temurun,” ujarnya, ditemui di kediamannya, Senin 27 April 2026.

Sebagian besar pengrajin merupakan perempuan yang terlihat cekatan menyusun potongan bambu tipis. Dengan gerakan yang nyaris tanpa henti, mereka mampu menyelesaikan satu produk dalam waktu relatif singkat, bahkan kurang dari satu jam untuk jenis tertentu seperti nyiru.

Salah satu pengrajin, Ani, mengaku telah mengenal kerajinan ini sejak kecil. Ia belajar langsung dari orang tuanya, mulai dari proses meraut bambu hingga teknik menganyam. “Dari kecil sudah diajarkan orang tua. Sekarang jadi pekerjaan sehari-hari,” katanya.

Dalam sehari, para pengrajin mampu menghasilkan dua hingga tiga produk, tergantung jenis dan tingkat kesulitannya. “Tergantung jenisnya, kalau nyiru atau aseupan bisa sampai tiga sehari. Tapi kalau boboko biasanya cuma dua hari,” jelas Ani.

Hasil kerajinan tersebut umumnya dibeli oleh pengepul yang rutin datang setiap pekan ke kampung tersebut. Sistem ini membuat perputaran ekonomi tetap berjalan dan produk warga terserap pasar.

Kepala Desa Salawu, Tatang, menyebutkan bahwa ratusan kepala keluarga di Kampung Cikiray menggantungkan penghasilan dari sektor ini. Ia menilai, kerajinan anyaman bambu memiliki peran penting dalam menopang ekonomi masyarakat.

Alhamdulillah, kerajinan ini bisa membantu perekonomian warga. Untuk peningkatan itu kembali ke kemauan masing-masing dalam bekerja. Dari sisi pemasaran relatif stabil, sebanyak apa pun hasilnya, pasti terserap,” ujar Tatang, saat ditemui di kantornya, Senin 27 April 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *