Atasi Persoalan Sampah di Kota Tasikmalaya, Ketua Prima DMI: Masjid Harus Jadi Solusi

INILAHTASIK.COM | Sampah dan lingkungan menjadi isu krusial di Kota Tasikmalaya selama satu dasawarsa terakhir. Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan gerakan sosial yang tumbuh dari bawah. 

Termasuk lembaga yang membentuk kerangka kerja yang menopang proses pembelajaran sosial ekonomi secara kolektif juga sangat dibutuhkan dalam mengatasi persoalan sampah dan lingkungan. 

Dalam upaya mengatasi isu sampah di Kota Tasikmalaya, Lab Politik Fisip Unsil bersama Mosaic, Dinas Lingkungan Hidup, PD Prima DMI Kota Tasikmalaya, dan Asosiasi Bank Sampah (Asobsi), menggelar diskusi multi pihak. 

Kolaborasi ini juga melibatkan pusat keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan, yaitu Masjid sebagai sentral daripada gerakan sosial untuk lingkungan yang bersih, sehat, dan mensejahterakan.

Dalam diskusi yang mendalam antara multipihak, yang berlangsung pada Rabu malam, 30 Juli 2025 itu, Lab Politik Fisip Unsil menyerahkan bantuan sedekah energi solar panel ke DKM Ar Rohmah Perum Mega Mutiara Regency, yang diterima langsung Pimpinan Ranting Prima DMI DKM Ar Rohmah. 

Ketua PD Prima DMI Kota Tasikmalaya, Encep Iik Muzakir mengatakan, kolaborasi ini merupakan inovasi baru dalam mengatasi isu sampah di Kota Tasikmalaya, melibatkan berbagai pihak dengan memanfaatkan teknologi, budaya, pendidikan, hukum, dan agama. 

Ia menegaskan pentingnya peran masjid sebagai pusat gerakan sosial dan pemberdayaan lingkungan. Menurutnya, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga pusat perubahan sosial. 

“Ketika persoalan lingkungan menjadi darurat, maka masjid harus hadir menjadi solusi, bukan hanya simbol,” ujar Iik, kepada wartawan, Kamis sore, 31 Juli 2025.

Ia menyebut, kolaborasi lintas sektor ini menjadi tonggak penting dalam membangun kesadaran kolektif di tengah masyarakat, khususnya dari aspek agama, sosial, budaya, pendidikan, hingga pendekatan teknologi.

“Masalah sampah tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan saja. Harus lintas sektor, dan yang paling penting tumbuh dari bawah, dari masyarakat, dari jamaah,” ungkapnya.

Gerakan sedekah sampah dan energi menjadi bentuk konkret dari integrasi nilai nilai keagamaan dengan praktik lingkungan yang berkelanjutan.

“DKM Ar Rahmah, yang diisi oleh pengurus Prima DMI tingkat ranting, akan menjadi percontohan bagaimana masjid bisa menjadi sentral edukasi lingkungan yang aktif,” kata Iik. 

Budaya gotong royong yang selama ini menjadi nilai dasar masyarakat, kini diuji untuk diwujudkan dalam bentuk kerja kolektif yang sistematis.

“Kolaborasi seperti ini bukan hanya tentang menangani sampah, tapi juga membentuk sistem pembelajaran sosial dan ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya. 

Melalui program ini, diharapkan masyarakat dapat lebih peduli, dan aktif memilah sampah dari rumah, serta mendukung gerakan berbasis sedekah lingkungan, yang tidak hanya membersihkan kota, tetapi juga memberikan nilai manfaat jangka panjang bagi umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *