INILAHTASIK.COM | Wakil Wali Kota Rd Diky Candranegara menghadiri kegiatan Sosialiasi dan Implementasi Objek Pemajuan Kebudayaan yang diadakan Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tasikmalaya, di salah satu Hotel, Kamis 11 September 2025.
Diky Candra menilai bahwa program tersebut penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahasa dan budaya lokal. Ia menyebut, kegiatan ini bisa menjadi embrio untuk menggerakkan kesadaran kolektif dalam menjaga, serta mengembangkan bahasa dan budaya sunda.
“Saya suka program ini. Program seperti ini yang harus dilakukan karena melibatkan guru didalamnya. Guru memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran bahasa dan budaya di kalangan anak-anak. Keterlibatan mereka diharapkan mampu menumbuhkan kembali kecintaan terhadap bahasa ibu,” tutur Diky.
Menurutnya, guru bisa menjadi kepanjangan tangan untuk mengajarkan peserta didik agar mereka dapat kembali lagi mencintai bahasa “indung” (ibu-red).
Diky mengaku sangat mendukung dengan adanya rencana bedah buku “Calakan”, yang diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mempromosikan bahasa dan budaya Sunda.
“Nanti orang bisa beli buku tersebut, kalau misalnya bisa jadi muatan lokal di seluruh Jawa Barat. Mudah-mudahan bisa masuk, bahkan pak KDM pun sudah memberikan sinyal positif,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Dr Deddy Mulyana S.STP, M.Si, menegaskan bahwa kegiatan ini digelar untuk mengembangkan nilai-nilai leluhur bangsa, memperkaya keberagaman budaya, serta melestarikan warisan budaya, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
“Program ini diikuti oleh 60 peserta, terdiri dari guru Bahasa Sunda jenjang SD dan SMP, guru seni budaya SMP, mahasiswa, akademisi, komunitas, serta praktisi budaya Kota Tasikmalaya,” jelasnya.
Pihaknya berharap program ini dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam membaca dan menulis aksara Sunda, sekaligus menguasai keterampilan untuk diterapkan dalam konteks modern, termasuk karya ilmiah maupun media digital.
“Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk melestarikan warisan budaya Sunda, meningkatkan, menjaga, dan mengembangkan budaya lokal,” pungkasnya.











