INILAHTASIK.COM | Rotasi mutasi pejabat eselon II di lingkungan Pemkot Tasikmalaya, pada Senin 11 Agustus 2025, seolah ingin menunjukkan “ini tim kami”. Yang nampak tak lebih seperti halnya pertandingan sepak bola, pemain dipindah pindah posisi, tapi separuh lapangan dibiarkan kosong, dan bola visi misi belum juga disentuh.
Hal itu disampaikan, Irwan Supriadi Iwok, Ketua Solidaritas Pemuda Tunas Tasikmalaya (SIPATUTAT), kepada wartawan, Senin malam, 11 Agustus 2025.
Nama-nama yang dilantik, kata Iwok, sebagian besar hanya bertukar kursi dalam lingkaran yang sama. Figur baru dengan energi segar dan gagasan berani masih nihil. Sementara itu, delapan OPD strategis, seperti Dinas Kesehatan, Diskominfo, Disdukcapil, hingga Inspektorat masih dibiarkan tanpa pimpinan definitif. Dalam bahasa birokrasi, separuh mesin pemerintahan diparkir tanpa sopir.
“Kekosongan ini bukan sekadar masalah administratif. Layanan publik bisa tersendat, pengawasan internal melemah, dan pengambilan keputusan strategis terhambat. Pelaksana tugas (Plt) memang ada, tapi kewenangannya terbatas oleh hukum, ibarat penumpang yang disuruh memegang kemudi, tapi tak diberi izin menyalakan mesin,” ujarnya.
Menurutnya, enam bulan pertama mestinya jadi panggung utama kepemimpinan untuk mengirim pesan tegas “Kami siap berlari”. Tapi jika setengah kursi dibiarkan kosong, pesan yang terbaca sebaliknya “Kami masih mencari sepatu”.
Pihaknya mengingatkan, bahwa rotasi mutasi bukan sekadar ritual pelantikan atau pertunjukan tukar kursi. Ini adalah instrumen perubahan yang harus diiringi pengisian jabatan berbasis meritokrasi, transparansi, dan keberanian memutus mata rantai birokrasi yang hanya memindahkan masalah dari satu meja ke meja lain.
“Jika tidak, kapal Pemkot Tasikmalaya akan terus berputar-putar di tengah laut. Bedanya, kali ini yang mabuk bukan hanya penumpang, kaptennya pun ikut pusing mencari kompas,” tandasnya.











