INILAHTASIK.COM | Mak Oyeh (75) warga Depok RT 004 RW 003, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, hidup dalam serba kekurangan. Tinggal di rumah sederhana bersama seorang anaknya penderita epilepsi, Mak Oyeh harus menjalani ketir kehidupan dengan penuh kesabaran.
Ironinya, di tengah keterbatasan yang dihadapi, Mak Oyeh luput dari perhatian pemerintah Kota Tasikmalaya. Ia bahkan tidak masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial atau DTKS. Padahal, jika melihat kondisinya, Mak Oyeh merupakan salah satu warga yang layak mendapat bantuan pemerintah.
Mirisnya lagi, meski tempat tinggal Mak Oyeh berada satu wilayah dengan Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, nampaknya hal itu tak memberi dampak positif bagi dirinya. Faktanya Mak Oyeh luput dari perhatian wakil rakyat.
Pemerintah melalui DPRD mestinya bisa hadir mengadvokasi warganya yang tidak mampu, menjembatani mereka agar mendapatkan haknya. Namun hingga kini Mak Oyeh tetap terabaikan.
Melihat kondisi memilukan yang dihadapi Mak Oyeh, Yayasan Padi Nusantara Sejahtera memberikan bantuan pangan berupa beras, bingkisan, dan sejumlah uang tunai, Minggu 7 September 2025. Bantuan ini diharapkan dapat menjadi penyambung hidup Mak Oyeh dan anaknya yang setiap hari harus berjuang melawan keterbatasan.
Dengan mata berkaca kaca, Mak Oyeh bercerita tentang pahit ketir kehidupan yang harus ia jalani. “Emak mah teu acan kantos nampi bantosan sapertos nu sanes. Saurna mah tos diusulkeun tapi teu acan kenging wae. (Emak mah belum pernah menerima bantuan seperti yang lain. Katanya sudah diusulkan tapi belum dapat),” ucapnya lirih.
Dewan Pembina Yayasan PNS, Iwan Restiawan, menyebut bahwa potret yang dihadapi Mak Oyeh, adalah bentuk nyata ketidakpedulian pemerintah terhadap warganya.
“Mak Oyeh dalam setahun terakhir kondisi kakinya tidak bisa berjalan. Jika hendak ke toilet diluar rumah, harus dengan cara ngesot. Andai pemerintah bisa hadir memberi solusi, mungkin bisa membantu meringankan beban hidupnya,” tutur Iwan.
Pihaknya hanya bisa membantu sesuai kemampuan. Seharusnya negara hadir membantu warganya yang kurang mampu. Jika pemerintah serius dalam menangani persoalan kemiskinan, tidak boleh ada lagi kasus seperti Mak Oyeh.
“Kalau sistem pendataan dan distribusi bantuan berjalan dengan baik, maka warga miskin seperti Mak Oyeh harusnya menjadi prioritas. Ini bukan soal belas kasihan, tapi soal hak dasar warga,” ujar Iwan.
Kisah Mak Oyeh, mestinya menjadi cambuk bagi para pemegang kebijakan di Kota Tasikmalaya. Wakil Rakyat jangan cuma hadir saat butuh suara mereka, dengan ragam janji di ucap. Saat rakyat membutuhkan mereka hilang tanpa jejak.
Bahkan, kata Iwan, perhatian pemerintah kalah oleh Kepolisian Resort Tasikmalaya Kota yang selama ini konsisten membersamai aksi sosial yang dijalankan Yayasan.
“Terimakasih pak Kapolres Tasikmalaya Kota atas bantuan yang sudah diberikan. Semoga bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan,” ucapnya.











