Opini  

Menuntun Cahaya di Tengah Zaman, Menyelami Kedalaman Literasi dan Misi Suci Duta Baca

INILAHTASIK.COM | ​Dalam tradisi pemikiran Islam, peradaban manusia tidak dibangun di atas fondasi kemegahan fisik semata, melainkan di atas fondasi ilmu pengetahuan dan kesadaran berpikir.

Perintah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW bukanlah perintah untuk membangun kekuasaan atau mengumpulkan harta, melainkan sebuah seruan yang melintasi batas zaman: Iqra’ bacalah.

Perintah ini mengisyaratkan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas fisik menatap lembaran kertas atau deretan huruf, melainkan sebuah proses spiritual dan intelektual untuk memahami realitas, mengkaji fenomena, serta menyerap petunjuk hidup demi kemaslahatan umat.

Sayangnya, dalam diskursus modern saat ini, makna literasi kerap kali teralienasi dari kedalaman hakikinya. Literasi sering diukur secara dangkal sebatas kemampuan melek huruf, menghafal teks formal, atau sekadar menuntaskan tumpukan buku tanpa ada transformasi pemikiran.

Padahal, di era kejayaan Islam, literasi adalah daya dorong lahirnya peradaban besar tempat sains, filsafat, dan spiritualitas menyatu secara harmonis.

Di tengah gelombang arus informasi digital yang kian bising dan sering kali menyesatkan, masyarakat hari ini tidak kekurangan bacaan, melainkan kekurangan daya kritis dan kedalaman perenungan.

​Lanskap krisis pemaknaan ini menuntut hadirnya para penggerak yang mampu menjadi pelita di tengah kegelapan informasi. Di sinilah posisi Duta Baca menemukan relevansi substantifnya.

Seorang Duta Baca tidak boleh hanya dipandang sebagai figur seremonial yang dihiasi pin penghargaan atau hadir sekadar memotong pita dalam acara-acara formal.

Jika ditarik dalam bingkai nilai Islam, peran ini adalah sebuah amanah da’wah bil hal sebuah ikhtiar nyata untuk mengajak masyarakat kembali pada budaya ilmu, berpikir jernih, dan mencintai kebenaran.

​Tantangan literasi hari ini bukan sekadar narasi klasik bahwa minat baca masyarakat rendah. Jika ditelaah lebih dalam, persoalan utama kita berakar pada ketimpangan akses terhadap sumber ilmu yang berkualitas serta minimnya literasi kritis di ruang digital.

Banyak anak bangsa di pelosok memiliki dahaga yang luar biasa terhadap ilmu, namun terhalang oleh minimnya fasilitas dan mahalnya akses buku.

Sementara di sisi lain, mereka yang memiliki akses melimpah justru kerap kali tersesat dalam lautan disinformasi, terjebak paham dangkal, dan kehilangan kemampuan membedakan antara substansi serta kebohongan.

​Maka dari itu, Duta Baca harus melangkah dengan semangat kepemimpinan yang membumi. Pertama, mereka harus meruntuhkan persepsi bahwa membaca adalah kegiatan yang kaku dan eksklusif, melainkan sebuah kebutuhan spiritual dan intelektual yang menyenangkan.

Kedua, Duta Baca harus menjadi jembatan yang menghubungkan ruang-ruang digital dengan gerakan nyata di masyarakat, memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan narasi edukatif yang mencerahkan.

Ketiga, dan yang paling utama, Duta Baca harus mendorong masyarakat untuk melangkah dari sekadar membaca menuju berkarya. Sebab, puncak dari ilmu yang berkah adalah ketika pengetahuan tersebut membuahkan amalan dan kebaikan yang dirasakan oleh sesama.

Keberhasilan seorang Duta Baca pada akhirnya tidak diukur dari seberapa populer dirinya di panggung publik, melainkan dari seberapa jauh ia mampu menghidupkan ekosistem ilmu yang berkelanjutan.

Ketika masa tugasnya usai, semangat untuk terus belajar, berpikir kritis, dan berkarya harus tetap menyala di hati masyarakat.

Menjadi Duta Baca adalah menjadi penuntun cahaya sebuah jalan untuk memastikan bahwa perintah Iqra’ tidak berhenti menjadi slogan sejarah, melainkan terus bernapas dan merawat peradaban bangsa.

Oleh: Resi Resviani – Kecamatan Cigalontang
Duta Baca Kabupaten Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *